Menjaga autentikasi Arsip

Sebagaimana realitas pekerjaan pada umumnya, bahwa pengelolaan objek pekerjaan kearsipan dituntut untuk sesuai norma, standar, petunjuk dan kriteria (NSPK) yang berlaku di institusi pemerintahan.

Mendasarkan pada ketentuan NSPK yang tercantum pada Standar Kualitas Hasil Kerja Arsiparis ( Peraturan Kepala ANRI nomor 5 yang kemudian diubah kembali dengan nomor 23 tahun 2017) bahwa arsiparis jenjang penyelia melakukan verifikasi arsip yang tercipta.

Tautan https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2018/12/05/uji-arsip-migas/ merupakan ulasan terkait uji arsip.

Bahwa mendasarkan kegiatan tersebut, penulis melakukan pengujian arsip. Uji arsip dilakukan dengan observasi terkait kriteria arsip. Arsip adalah dokumen yang telah memenuhi kriteria struktur, kontek, dan konten.

Ketentuan teknis yang mengatur kriteria surat masuk dan surat keluar wajib memiliki kriteria lengkap dan benar. Kelengkapan surat sebagai hal yang dipersyaratkan oleh tata naskah dinas. Kebenaran surat sesuai dengan pelaksanaan kegiatan berdasarkan kewenangan yang dimiliki institusi.

Surat-surat yang terekaman dalam pelaksanaan kegiatan Ditjen Migas sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2016 mengendap menjadi tumpukan arsip yang menggunung di sela sela ruang kerja. Pemandangan tumpukan arsip yang telah diatur pada sarana odner maupun map πŸ“‚ hampir merata di tiap ruang arsip pada unit kerja di Gedung Migas.

Beberapa kondisi lingkungan yang menyebabkan kan tidak berjalannya siklus hidup arsip menyebabkan tumpukan arsip menjadi pemandangan yang memaksa untuk diterima oleh pegawai dan pejabat di Ditjen Migas.

Siklus hidup arsip yang seharusnya dijaga keberlangsungan nya oleh arsiparis, mandeg selama sepuluh tahun. Kemudian muncul nya keadaan yang luar biasa untuk menghidupkan siklus hidup arsip yakni kegiatan renovasi ruang kerja.

Penulis telah menggambarkan keadaan arsip akibat renovasi ruang kerja pada tautan berikut
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2018/10/15/ledakan-%f0%9f%92%a5-arsip-di-gd-migas/

Kondisi renovasi ruang kerja mendesak para pegawai dan pejabat mau tidak mau meninggal arsip dan dokumen menuju ruang kerja transit. Kepindahan sementara tersebut menyebabkan ruang arsip menanggung kepindahan arsip dari ruang kerja. Puluhan kardus besar dan kontainer dengan luasan ratusan meter lari menjadi beban kerja arsiparis.

Kembali kepada topik menguji arsip untuk melaksanakan verifikasi arsip yang tercipta. Sengaja penulis menyampaikan kondisi ruang kerja sebagaimana paragraf di atas karena berkaitan berat dengan penciptaan arsip.

Penulis berpendapat terdapat dua sudut pandang fase penciptaan. Yang pertama adalah keadaan alamiah dari berjalannya siklus hidup arsip. Yang kedua adalah adanya intervensi keadaan luar biasa misalnya dampak kegiatan renovasi ruang kerja.

Pada keadaan yang berhimpitan dengan kejadian luar biasa seperti renovasi ruang kerja, penulis berpendapat bahwa perlu diperhatikan untuk dikategorikan ke fase penyusutan (siklus hidup arsip). Meski terjadi kegiatan pemindahan dari ruang kerja ke ruang arsip, namun pemindahan ini lebih condong kepada kegiatan evakuasi arsip bukan pemindahan pada fase penyusutan.

Sebagaimana tulisan penulis pada tautan https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/05/11/evakuasi-arsip/

Bisa jadi kegiatan pemindahan tersebut gatau dalam istilah penulis adalah evakuasi arsip, dapat dikategorikan ke fase penggunaan dan pemeliharaan, bukan fase penyusutan.

Penulis mengidentifikasi dua proses pelaksanaan siklus hidup arsip harus ditinjau dari unit yang melaksanakan, bukan hanya fokus pada proses nya saja. Kesamaan proses pemindahan arsip dengan perbedaan unit pelaksana akan menyebabkan perbedaan sudut pandang fase di dalam siklus hidup arsip.

Misalnya proses pemindahan berikut ini:
1. Proses berpindahnya arsip dari ruang kerja ke ruang arsip menjadi salah satu proses pada fase penciptaan jika ditinjau dari unit kearsipan. Alasannya adalah dari yang belum ada menjadi ada. Dari situlah mulai terjadi kewenangan untuk pengolahan arsip inaktif.
2. Proses berpindahnya arsip dari ruang arsip unit kearsipan pada jenjang bawah ke ruang arsip unit kearsipan jenjang lebih tinggi menjadi salah satu bentuk proses fase penyusutan

Arsiparis Minder???

Apakah arsiparis Minder atawa kurang percaya diri dengan jabatan khusus pengelola arsip???? Bagaimana dengan para pembaca yang memiliki jabatan arsiparis?

Meski jabatan khusus pada urusan kearsipan telah dilakukan pembinaan lebih dari 30 tahun dan bidang kearsipan di Indonesia telah berusia 48 tahun, namun bagi pegawai yang menduduki jabatan arsiparis masih terkesan minder dan kurang percaya diri.

Bagi penulis, pekerjaan bidang apapun menuntut sikap pegawai yang dapat menampilkan kesan percaya diri. Namun agak berbeda dengan jabatan arsiparis, tidak jarang jika berkenalan dengan orang baru, dapat dengan lantang menyampaikan jabatan sebagai seorang arsiparis.

Dari pengalaman penulis yang telah lebih dari 10 tahun menduduki jabatan fungsional arsiparis, rasa percaya diri naik dan turun seiring dengan keadaan di sekitar.

Jika kita bandingkan dengan jabatan lain, arsiparis mengesankan sebagai jabatan level bawah khususnya di intansi teknis. Selain dunia pendidikan kearsipan masih berada taraf Diploma tiga, dan perubahan undang undang kearsipan di tahun 2009, iklim pekerjaan misalnya di pemerintah masih melihat kearsipan berada di pemahaman butuh dan tidak butuh.

Sedikit flashback pada tahun 2009, ketika penulis menjalani awal masa kerja di Ditjen Migas bersama dua belas orang teman lainnya. Kala pengenalan ruangan, kita menjalani orientasi ke seluruh unit kerja. Saat itulah mulut ini harus menjawab pertanyaan latar belakang pendidikan.

Teman seangkatan dengan variasi biground pendidikan jurusan teknik kimia (rina, imron, wiyono, yeni) perminyakan ( ira yosi, Risris), geologi (asep), hukum (dewi, vira), administrasi negara (bayu dan dondi), teknik mesin ( urly), dan aku sendiri adalah kearsipan.

Tidak lantang dalam menjawab pertanyaan mengesankan kurang percaya diri, bahkan respon almarhum bapak Naryanto Wagimin ketika mendengar jawabanku, menanyakan kembali dengan kata “keartisan?”

Meski dengan suasana guyon namun sedikit banyak mempengaruhi pembentukan rasa percaya diri. Sebetulnya wajar saja, setelah saya telusuri seluruh latar belakang pendidikan yang dimiliki pegawai Ditjen Migas, saya adalah orang pertama ☝yang memiliki ijazah Diploma tiga kearsipan. Karena ijazah kearsipan, saya dapat bergabung di Ditjen Migas.

Latar pendidikan kearsipan membuka cakrawala wawasan umum para pegawai dan pejabat di Ditjen Migas saat berkenalan dengan saya. Awalnya yang belum tahu menjadi tahu.

Selama sepuluh tahun pula lah, habitat pekerjaan yang memiliki substansi keteknikan, mempengaruhi rasa percaya diri.

Jiwa yang bebas tergelitik untuk konsisten menggeluti bidang kearsipan meski terasa sepi. Meski berakibat perasaan sepi, namun sejauh ini dapat terus mengkampanyekan kearsipan di institusi teknik yang kental dengan kegiatan dan program kerja keteknikan khususnya substansi Migas.

Terpilihnya penulis sebagai arsiparis teladan tingkat nasional untuk kategori arsiparis terampil pada tahun 2014 dan terpilih lagi sebagai arsiparis terbaik tingkat kementerian ESDM tahun 2018, bukan karena sudah tidak minder lagi.

Pencapaian teladan dan terbaik karena berusaha melawan rasa minder di tengah-tengah geliat kegiatan teknik kemigasan.

Akhirnya, kesimpulan nya adalah rasa minder atawa kurang percaya diri menjadi tantangan dalam pelaksanaan tugas sebagai arsiparis. Tiap hari meniti aktivitas kearsipan untuk terus menghadapi tantangan rasa minder dan kurang percaya diri yang berasal dari diri sendiri dan dari bidang kearsipan bukan dari faktor luar

Semoga bermanfaat

Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah

Arsiparis atau bolehlah kita dideklarasikan sebagai Si Penjaga Informasi, tentu saja dituntut untuk mendalami proses bisnis secara umum terkait kegiatan yang terekam di dalam arsip.

Namun demikian, apakah si Arsiparis memang harus mengetahui substansi kegiatan?, untuk apa harus memahami alur proses administrasi nya?. Kalo gitu, tuntutan untuk tau alur proses bisnis atau administrasi kegiatan sebagaimana arsip yang diolah, bisa menyita banyak waktu. πŸ˜‚πŸ˜€πŸ˜πŸ˜‹ bikin pusing karena, banyak yang harus diketahui, sedangkan masih tumpukan arsip yang belum tersentuh 😭😭.

Terlebih untuk pengarsipan dengan status inaktif, mau selesai kapan πŸ•’β“ jika dituntut untuk membekas kan tiap transaksi kegiatan πŸ€”πŸ’­ ??? Memang tidak bisa apa, diberkaskan berdasar bentuk arsip nya, memang haruskah pemberkasan berdasarkan kegiatan πŸ€”πŸ’­?

Seiring dengan tuntutan profesi di era Reformasi Birokrasi, arsip dapat disajikan kepada tiap pengguna yang membutuhkan, maka tidak ada salahnya jika sesekali sebagai arsiparis mendalami proses dan hubungan kerja pada kegiatan yang termuat di dalam arsip.

Pada tulisan ini, bersamaan dengan proses pengolahan arsip penerimaan negara sektor migas, sebagaimana tautan https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/06/11/penerimaan-negara-sektor-migas/ penulis mengulas sekilas berkas Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah atau disingkat dengan PKPD.

Hubungan kerja Ditjen Migas pada Kementerian ESDM dengan Ditjen Perimbangan Keuangan pada Kementerian Keuangan menghasilkan berkas PKPD. Berkas tersebut membuat informasi terkait perhitungan perkiraan jumlah dana bagian daerah dari SDA Migas.

Dalam memperhitungkan bagian pemerintah daerah, tentunya berdasarkan realisasi lifting kumulatif per triwulan yang sebelumnya dilakukan workshop atau rapat kerja rekonsiliasi perhitungan bersama antara Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, SKK Migas, PT Pertamina dan Kontraktor KKS.

Nah, ada yg tau gak, apa itu arti atawa definisi lifting?. Si penjaga rekaman informasi ( arsiparis ) ini dituntut sedikit tahu, semoga bukan sok tahu. Namun demikian, karena arsiparis terkondisi membaca surat2 jadul, kita contek dikit definisi lifting sesuai suratnya Direktur Pembinaan Pengusahaan Migas pada 11 Juni 2002.

Surat yang ditujukan kepada Bupati Tuban tentang jawaban atas peninjauan kembali dana perimbangan migas tahun 2002, yang dimaksud dengan lifting adalah jumlah produksi migas yang dijual setelah dikurangi pemakaian sendiri (pemakaian di lapangan).

Surat tersebut menjadi isi berkas PKPD dimana tiap pemerintah Daerah sebagai penguasa wilayah kerja migas setempat menyampaikan keberatan atas hasil penetapan bagi hasil SDA Migas.

Selain alur proses bisnis kegiatan dan hubungan kerja antar institusi, pasti arsiparis juga dituntut untuk memahami kewenangan tiap nstitusi.

Manfaat yang diperoleh dengan memahami kewenangan adalah dapat menentukan tingkat kualitas arsip. Arsip yang memiliki sifat unik dan harus terjaga reabilitas serta otentitasnya, maka harus dikaitkan dengan kewenangan institusi pelaksana kegiatan.

Contohnya, pada berkas PKPD termaksud bahwa keberatan atas hasil penetapan bagi hasil SDA Migas pada tahun 2002 dari pemerintah daerah menjadi kewenangan Menteri Keuangan. Sedangkan untuk kementerian ESDM cq. Ditjen Migas bersifat tembusan.

Pada akhir tulisan ini, penulis memaknai bahwa pengarsipan menjadi tarekat atau jalan kebijaksanaan kehidupan. Selain banyak faktor yang harus diperhatikan seperti
1. Alur tiap transaksi kegiatan
2. Hubungan kerja antar institusi
3. Kewenangan tiap institusi
Juga harus memperhatikan periodisasi atau kurun waktu terselenggaranya kegiatan.

Perubahan periodisasi tata negara mempengaruhi pula perubahan peraturan perundangan undangan. Perubahan juga berdampak pada ketiga faktor yang telah disebut diatas. Kemudian semakin bijaksana dalam menyimpulkan informasi.

Abiyoso Pradipta M.

Thole (panggilan untuk anaku yang kedua), Bapak mau bilang sama Thole “mungkin saja bapakmu bukan ayah yang tangguh yang ada di muka bumi 🌎 ini” Bapakmu belum bisa mengerti apa yang sering kau harapkan. Bapakmu kadang tak mampu memenuhi tiap keinginanmu. Bapakmu penuh dengan keterbatasan hingga tak sanggup mengimbangimu.

Di usiamu yang genap empat tahun pada Mei ini, kau nampak dikuasai atas keinginanmu. Dunia mainan dan tontonan menjadi nomor satu. Aku bangga dan bersyukur karena kau istimewa dari Sang Pencipta. Bukan Kuasa bapak dan ibumu kau dikuasai keinginanmu.

Bisa jadi karena pertimbangan tertentu, setiap keinginanmu pasti dipending dan ditunda. Aku pun luluh hanya karena rengekan kencang keluar dari mulutmu. Kuatnya teriakan atas keinginanmu, selalu menundukanku. Sempat beberapa kali, hilang kendali untuk melayanimu dengan menunjukkan amarahku padamu. Namun saat itu juga, diri ini nyesel dan takut untuk mengulangi lagi.

Bapak yakin, jika waktu telah tiba, tanpa dikalahkan pun Thole mampu mengontrol keinginan itu. Meski terkadang keyakinan itu oleng hingga kuharus bermain fisik untuk menunjukkan dominasi amarahku. Maafin bapak ya le…….

Melalui tulisan ini bapakmu akan berusaha mengingat bahwa tidak seharus nya ku melawan dirimu. Karena bagi Bapak dirimu adalah takdir Allah yang kumaknai sebagai guru dan patner dalam kehidupan.

Jika suatu saat, kamu merasa tersakiti oleh pelayanan bapakmu ini, tolong lupakan y le….., aku khawatir kalo rasa sakitmu kau simpan sampai kau besar nanti. Jika BAPAK nanti harus menjalankan doktrin agama untuk menghardik dan memarahimu, tolong buka permaklumanmu.

Di akhir kanak menuju balighmu, mungkin empat tahun mendatang sampai kau menuju dewasa, kau bukan lagi raja seperti saat ini. Tolong pahami itu y Thole…

Masih ada beberapa tahun kedepan Thole berperan sebagai Raja πŸ‘‘πŸ€πŸ‘‘. Engkau raja dan aku pelayananmu. Meski Bapakmu akan berusaha membuka kedaulatan berfikir mu, bukan memperbudakmu jika kau baligh nanti.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat hubungan emosional kita y Le…..suatu hubungan yang mesra untuk saling mengawal dan menemani dalam menjalani kehidupan dunia yang semetara untuk kehidupan yang kekal nanti

Penerimaan Negara sektor Migas

Harga minyak mentah Indonesia atau biasa disebut dengan ICP pada setiap bulannya dilaporkan dari Dirjen Migas kepada Menteri ESDM. Sebagai kelengkapan laporan kepada menteri dilampirkan executive summary harga minyak di pasaran.

Paragraf di atas merupakan salah satu deskripsi dari rekaman kegiatan pelaksanaan tugas dan fungsi Ditjen Migas yang dilaksanakan oleh Sub Direktorat Penerimaan Negara dengan kode unit kerja DMBP.

Unit kerja DMBP mempunyai kegiatan yang bersifat koordinatif berskala nasional terkait penerima sumber daya alam yakni Migas. Informasi yang selama ini terbaca oleh penulis melalui kegiatan pengarsipan yakni Lifting Migas, Rapat kerja perhitungan bagian pemerintah pusat dan daerah, sistem informasi monitoring lifting, sosialisasi pendapatan negara bidang Migas, tim harga minyak, inventarisasi data migas (angka2 dalam satuan barel untuk pengangkutan minyak mentah dari lokasi pengeboran migas) dan seterusnya.

Sifat kerja yang koordinatif menyebabkan arsip atau rekaman kegiatan belum terberkaskan secara konsisten. Selain itu begitu banyak pihak atau institusi dari luar KESDM yang terhubung dengan unit kerja DMBP menyebabkan para pelaksana atau staf memiliki mobilitas yang tinggi sehingga kemungkinan banyak waktu tersita untuk aktivitas pekerjaan di luar kantor atau dinas luar daerah.

Pihak lain atau institusi yang berkoordinasi dengan Subdit Penerimaan Negara pada Direktorat Pembinaan Program Migas adalah Bank Indonesia, DJA, DPB, Direktorat Penerima Negara Bidang Migas Kemenkeu, Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia yang memiliki sumber daya alam Migas, Badan Usaha Pertambangan Migas, SKK Migas, Biro Perencanaan KESDM, Ditjen Perimbangan Keuangan Daerah Kemenkeu, Kementerian Dalam Negeri dan seterusnya.

Seri dan jenis arsip pada Subdit DMBP sebagaimana termuat dalam Jadwal Retensi Arsip Substantif Minyak Dan Gas Bumi (Peraturan menteri ESDM no.18 tahun 2011) antara lain adalah penetapan harga minyak mentah, Monitoring Lifting, Prognosa Daerah Penghasil, Data Ekspor Gas, Data Estimasi dan distribusi pemerintah, Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah (PKPD), berita acara bagi hasil Migas, penetapan daerah penghasil Migas

Baca juga http://nurulmuhamad.blogspot.com/2013/11/jenis-dan-seri-arsip-pembinaan-program.html?m=1

Kinerja dari unit kerja penerima negara Migas pada Ditjen Migas adalah proses penetapan daerah penghasil yang dalam bentuk keputusan Menteri ESDM akan melandasi Keputusan Menteri Keuangan terkait pembagian bagian negara bukan pajak sektor sumber daya Migas.

Berikut rencana wawancara penulis dengan pimpinan unit kerja DMBP Heru Widianto (menunggu konfirmasi)

Selamat siang Pak, kami tim arsip sedang dalam proses pengarsipan sejak sebulan lalu. Hampir 40 kardus besar telah kami proses pemilahan. Bisa kami mendapat kan melakukan wawancara? Berikut delapan pertanyaan yang semoga dapat memberikan pengetahuan untuk kami dalam menjaga rekaman kegiatan dari masa ke masa.

⭐ Bisa digambarkan pelaksanaan kegiatan utama subdit DMBP?
Jawaban:
⭐Apakah tantangan yang paling serius atau kesulitan menurut bapak?
Jawaban:
⭐Bagaimana mengatasi tantangan tersebut?
Jawaban:
⭐ Apakah sifat pekerjaan yang koordinasi mengakibatkan mobilisasi tinggi untuk para staf?
Jawaban:
⭐Bisa digambarkan monitoring lifting yang dilakukan DMBP dan untuk keperluan apa saja?
Jawaban:
⭐Apa perbedaan yang mencolok dari proses rapat kerja atau workshop penerima negara bidang Migas saat ini dibanding dengan lima atau sepuluh tahun yang lalu.
Jawaban;
⭐Bagaimana pembagian pendapatan negara sampai ke daerah penghasil?
Jawaban:
⭐Bagaimana dan kapan dibutuhkan ketersediaan arsip atau rekaman kegiatan?
Jawaban:

HALAL BIL HALAL

Senin, 10 Juni 2019 tenggelam dalam pemilahan arsip di paro hari. Bertepatan dengan hari pertama kerja setelah libur panjang Hari Raya Idul Fitri, suasana kerja masih dipenuhi dengan cerita kemacetan mudik.

Di Gedung Migas, lantai 6 diadakan halal bil halal sejak jam 7.30 WIB. Direktur Jenderal MIGAS yang diagendakan untuk menghadap Menteri ESDM mengajukan jam pelaksanaan menjadi satu jam lebih awal.

Meski penulis menghadiri acara terlambat 40 menit, namun masih dapat menemui di saat acara ramah tamah dengan makan bersama. Menu makan yang disediakan adalah Bakso, Soto, Sate, dan Siomay berikut kudapan kue basah dan minuman jus buah.Makanan khas dan sudah menjadi ciri keindonesiaan meski berada di Ibu Kota Jakarta.

Tradisi salam salaman pada hari pertama kerja setelah lebaran di Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi telah di alami penulis selama sepuluh kali yakni sejak tahun 2009. Sejak kepemimpinan Evita Herawati Legowo kemudian Edy Hermantoro, IGN Wiratmaja, dan saat ini Djoko Siswanto.

Ada satu nama Dirjen Migas yakni Ego Syahrial yang tidak sempat mengalami tradisi halal bil halal karena Mutasi ke Sekretaris Jenderal KESDM. Masa Jabatan sebagai Dirjen yang tidak bertepatan dengan hari raya idul Fitri dan belum sampai satu tahun merupakan masa jabatan paling cepat diantara Dirjen lainnya.

Pelaksanaan acara terbilang sangat simpel dan sederhana namun tidak mengurangi kehidmatan dalam bersalaman. Meski penulis kehilangan momen saat bersalaman secara berjamaah.

Penulis berhitung jika jam 8.00 WIB masih mendapati momen bersalaman. Namun ternyata acara berada di luar kebiasaan. Selesai acara sambutan Dirjen dilanjut makan bersama. Nyesel rasanya kelewatan hangatnya momen bersalaman.

Akhirnya, selamat πŸŽŠπŸŽ‰ hari raya lebaran 2019, semoga kembali ke dalam kesucian. Suci dalam pelaksanaan tugas sebagai Aparatur Sipil Negara sub sektor Minyak dan Gas Bumi. Suci bukan semata mata putih saja. Namun membawa Semangat idul Fitri untuk terus memberikan pengabdian demi manfaat untuk institusi Ditjen Migas dan rakyat indonesia.

MUDIK SLEMAN

Di malam menjelang balik Depok, Ibu dan Bapak Mertua sudah sibuk untuk menyiapkan bekal dan buah tangan. Bekal di jalan sepeti roti kering cemilan sampai dengan menu makan 🍴🍴🍱 yang dimasak dipersiapkan dengan penuh rasa sayang.

BERAS dan salak dari hasil menanam di lahan sendiri sampai dengan jajanan yang dibeli dari warung dipersiapkan untuk cucu tercinta. Setelah membersihkan raga dengan segarnya air πŸ’§sumur Jabung, dan lanjut dengan sarapan, jam 09.00 pamitan dari rumah mertua.

8 Juni 2019 jam 10.30 berpamitan dari rumah kakek Wahono untuk melakukan perjalanan kurang lebih 21 jam. Bagi keluarga πŸ‘¨πŸ‘§πŸ‘©πŸ‘΄πŸ‘΅ yang teridiri Nurul, Elin, Nasywa, Dipta, dan rara menjadi perjalanan ketiga di tahun 2019. Perjalanan dari tanah perantauan ke tanah kelahiran.

Kami sebut tanah perantauan karena di Ibukota kita menghabis kan waktu untuk menjalani mata pencaharian, dan tanah kelahiran karena pernah dibesarkan sampai mengajak lulus kuliah.

Laju kendaraan terhenti ketika pesanan temen istri untuk dibawakan intip. Makanan ringan yang diinisiasi dari kerak saat menanak nasi, namun sekarang telah menjadi industri makanan ringan.

Di pusat oleh oleh massugi di Magelang singgah untuk menjalankan empat rakaat sembari menunggu istri belanja makanan titipan.

Dalam perjalanan, istri meminta makan Soto, baru terpenuhi ketika masuk res Area 359, soto kudus tanpa nasi yang dihargai 25.000. Kemudian perjalanan terhenti ketika sudah menempuh 250 kilo meter, tepatnya di rest area 102.

Diselingi tangisan istri karena menahan sakit perut, berhenti juga di rest area 88 dan 52 sebelum menempuh 21 jam perjalanan balek.

Sekitar 6.30 WIB masuk di Perumahan Villa Tanah Baru. Kaki terasa pegel dan mata mulai ngantuk setelah membersihkan dan memarkirkan mobil di garasi.

Cerita πŸ“– perjalanan mudik yang menjadi rutinitas saja. Tahun 2019 ini telah tiga kali bolak balik ke sleman yogyakarta. Ada di bulan Februari, April dan Mei.

Kuliner dan rekreasi malam

Sejak tanggal 2 Mei s.d 8 Mei 2019, posisiku dan keluarga berada di Provinsi Yogyakarta. Selain berlebaran dan mudik, tentunya menyempatkan diri untuk kuliner dan rekreasi. Kuliner mie jogja ala Pak Hardi. Cerita yang nongol di kupingku, Hardi adalah mantan pegawai warung mie jogja mbah Ndumok yang legend.

Di daerah Sleman ada warung yang dijalankan secara turun temurun yakni Bakmie Mbak Ndumok.

Meski telah membuka warung sendiri, Pak Hardi mempertahankan metode memasak dengan mempergunakan arang dimana di warung mie jogja Mbah Ndumok (yang dijalankan anaknya) telah mempergunakan gas sebagai bahan bakar memasak.

Lokasi warung Pak Hardi yang tidak jauh dengan pendahulunya menciptakan keramaian sudut kuliner tersendiri di Sleman. Selain itu kehadiran mie jogja berlabel Slemania sebagai pendatang baru memeriahkan kawasan Wadas untuk para penikmat mie jogja.

Ketika agenda silaturahmi atawa sm disebut ujong dalam istilah di kampungku Sucen Triharjo Sleman, menyempatkan untuk rekreasi malam πŸŒ›πŸŒŸ di Taman Pelangi. Kawasan Monumen Jogja Kembali yang telah dipoles menjadi taman lampion menjadi alternatif menghabiskan waktu petang sampai malam bersama keluarga.

Meski kunjungan keempat, namun menjadi berbeda ketika dipta dan nasya serta nayla (anak2 penulis) sudah dapat berjalan dan bermain. Jika pada kunjungan sebelumnya hanya bisa melihat trampolin ramai dimainkan anak anak, kali ini mencoba masuk dengan tiket 15.000. Wahana bermain yang bisa dibilang berumur, menjadi pertimbangan penjaga ketika penulis merasakan loncat loncat meski masuk untuk menjaga anak anak saja.

Pada tempat rekreasi kedua adalah Kaliurang. Kawasan wisata lereng gunung merapi ini merupakan tempat yang legend bagi warga di sekitar Sleman. Udara yang sejuk menjadikan kesan pengunjung tidak bosan bosannya meski puluhan kali datang.

Di kawasan tlogo putri mengantar kakung bermain perahu angsa bersama nasywa dan dipta. Akhirnya berfoto di depan patung harimau

REKAMAN VIDEO

Masuk pada hari ke lima, edisi pulang kampung.
#sucen #jabung

Sungkeman dimaknai sebagai penyampaian bhakti kepada orang tua dalam ucapan yang dilaksanakan ba’da sholat sunat hari raya di rumah 🏑 orang tua atau mertua. Pada Lebaran tahun ini bisa mengabadikan lewat rekaman video karena dipta dan nasywa merasa terhibur dengan melihat video saat pentas di sekolah.

Berbarengan dengan itu tahun 2019 merupakan tahun dimana anak anak πŸ‘Ά mengenal video yang diunggah di Youtube. Fenomena youtuber yang menjamur mempengaruhi peran Bapak dalam menemani tumbuh kembang sang anak. Sang bapak punya senjata baru untuk menghibur anak dengan memainkan rekaman πŸŽ₯πŸŽ¬πŸ‘€ yang diunggah di Youtube.

Banyak pilihan rekaman yang membuat permisif si Bapak semisal film pendidikan, bacaan murottal, pengenalan obyek dan warna bahasa sampai dengan pengetahuan umum lainnya.

Dalam dua minggu terakhir, Dipta dihibur rekaman vidio dalam HP ibunya saat mencari bapak. Ketika melihat video, teriakan dan tangisan untuk mencari bapak berhenti. Rekaman vidio tetangga melalui HP saat nasywa dan dipta bermain rumah Depok atau vidio pendek ketika di tangkap ibunya saat melihat ke gemesan anak anak di dalam kamar menjadi hiburan pengantar tidur.

Runtutan kejadian dan gambaran keadaan diatas menyulut si bapak untuk melakukan aktivitas perekaman. Meski tidak berniat untuk mengunggah di youtube. Memulai merekam aktivitas anak dalam bermain dan memainkan mainannya, sebagai koleksi untuk mengisi waktu di kala bersama anak. Misalnya saja rekaman video saat berkumpul dalam nuansa lebaran di rumah Sucen atau di rumah Jabung. Lebaran yang jatuh pada tanggal 4 dan 5 Mei 2019 telah berlalu meski hanya beberapa video yang dapat terekam melalui HP.

HP yang diharapkan tidak mempengaruhi tumbuh kembang anak menjadi sisi keping uang logam. Satu sisi keadaan dan satu sisi HP menjadi teknologi untuk lebih menghidupkan keadaan.

Ditemani video rekaman yang dapat di putar melalui HP, anak menjadi tidak rewel dan tidak merepotkan ibu atau bapak. Terlebih ketika sang ibu dan bapak masih ada hal yang harus dikerjakan.

Awalnya yang berfikir untuk menjauhkan HP dan Gadget untuk anak, saat ini berkeinginan untuk membelikan HP atau gadget. Hal tersebut dilandasi penuh kesadaran untuk menyediakan fasilitas agar keadaan dapat lebih hidup. Bukan untuk merusak dan bukan untuk berlebihan.

Kampung Halaman

Ke Sleman lagi edisi lebaran 2019 bagian kedua ini menjadi cerita kerinduan atas hubungan emosional semasa tinggal di kampung. Tulisan ini menjadi pengingat penulis bahwa tantangan kaum udik (golongan perantau dan akhirnya harus pindah kependudukan) tidak bisa lagi ikut membangun kampungnya.

Bukan tidak mau namun perubahan yang dialami menciptakan kondisi yang sulit untuk dapat berbuat banyak di kampung sebagai tanah kelahiran. Semoga tulisan ini membawa pribadi penulis untuk meniti kerinduan sampai pada suatu saat nanti punya kesempatan dan kemampuan lagi untuk ikut memberikan sumbangsih pembangunan untuk kampung halaman.

—–+++++++—–#####$$$$$&&&&@@**”‘

Kamis, 6 Juni 2019 adalah hari keempat dari rangkaian pulang kampung atau biasa disebut dengan mudik. Selain itu merupakan hari kedua lebaran dimana hari2 diinstal dengan hal yang sama tiap tahunnya.

Pagi hari menjelang hari kemenangan atawa lebaran, singgah di Puri Mertua Indah memang cukup menyenangkan. Terbangun dari tidur langsung bisa mandi disambung dengan sarapan pagi. Tidak perlu repot untuk bangun sendiri dan menyiapkan makanan sendiri. Mertua yang begitu baik membangunkan dan mempersilahkan makan.

Kita cukup berfokus melakukan servise kepada cucu cucu mertua dengan mangajak ke tanah lapang untuk melaksanakan sholat Ied. Bertempat di komplek perkantoran OPD Kab. Sleman yang berlokasi di dekat kampung halaman Sucen Triharjo Sleman Yogyakarta, kami pun mengikuti rangkaian sholat Ied tahun 2019.

Nuansa sholat Ied yang penuh dengan orang2 yang dulu pernah dijumpai semasa kecil. Ada pak Ustadz yang dulu pernah mengajak dan menemani mengenal islam. Ada pakdhe2 yang melirik ke arah tempat aku duduk sambil manggut manggut. Ada mas mas yang dulu memuji kepintaranku dalam sekolah sambil terus mengagumi karena sudah punya tiga anak.

Nuansa kenangan balik kampung begitu menghiasi dari jamaah sholat Iedul Fitri di tahun ini. Di kerumunan jamaah itu, terkuak memori ketika aku yang masih semasa bermain. Melihat si A teman SD. Berjabat tangan dengan si B teman bermain dan berorganisasi remaja kampung. Dipanggil Bapak C yang dulu dan sekarang masih menduduki jabatan tokoh masyarakat. Disapa mas D sebagai rekan pergerakan kegiatan remaja Mushola dan pengurus masjid.

Tak lupa terlihat pula temen2 sebaya pada lima belas tahun yang lalu yang memandangku sebagai orang yang sukses. Sebuah pandangan yang dibelenggu penjajahan ekonomi kapitalisme. Pandangan yang menjadikan keakraban semakin retak, padahal dulu pernah sangat mesra untuk menjalani hari hari di Sucen.

Selain itu terlihat pemandangan kampung yang dulu bocah kini menjadi manusia muda. Tubuh gempal dan gagah serta kumis atau jenggot bukan bocah dulu yang pernah ku urusi ketika mereka belajar mengaji atau ketika mereka lomba 17an.

Bocah2 yang dulu merasa disayangi, diurusi dan dikondisikan untuk menggapai kehidupan yang lebih baik kini telah merasa asing dengan diriku. Mereka merasa ditalak, merasa dicerai, merasa ditinggalkan ketika bertahun tahun ku telah pindah penduduk di ibu kota.

Tiada wujud bentuk kasih sayang, keberpihakan dan perhatian untuk nasib mereka di kampung, sedangkan diri ini tenggelam dalam jelmaan takdir kehidupan sebagai kaum udik.

Hal itu menjadi tautan untuk kondisi hubungan yang lain. Aku punya hubungan emosional di kampung saat punya banyak waktu dengan organisasi remaja, kepengurusan masjid, TPA, senioritas, tokoh masyarakat, kekerabatan keluarga dan seterusnya. Namun kini menjadi terasa asing saat pulang kampung. Tak sedetik pun waktu dapat disisihkan untuk hubungan2 tersebut.

Jika memang status kaum udik menjadi penyebab retaknya hubungan itu, maka diri ini menjadi manusia yang telah berubah. Namun melalui tulisan ini, ku ungkap kan bahwa perubahan yang terjadi karena ketidakberdayaan atas penjajahan ekonomi semata.

Kutuliskan alibiku bahwa perubahan ini tidak semata atas kemampuan dan keinginanku. Masih ada di dalam hati kecilku rasa emosional atas hubungan hubungan tersebut. Semoga dapat tumbuh kembali rasa itu. Rasa yang dulu merasa “aku anak kampung'”.

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai