Flu Singapur

‘Nak, sakit itu datang karena disuruh oleh Allah, bukan karena yang lain, jadi kakak dan tole harus bisa nerima, kalo tidak mau terima, nanti Allah marah’, kataku kepada anak anak.

Kalimat yang mungkin susah dimengerti nalar bocah. Pun secara sadar, di era zaman now, nalar dewasa pun masih dapat lupa. Memang datangnya penyakit karena Allah, tapi bla bla bla…..hingga berbagai alasan untuk merespon kondisi yang sejatinya akan mengubur akidah manusia kepada Sang Pencipta.

Bisa jadi, kondisi sehat saat ini, dengan mudah nya saya menyampaikan kalimat itu, meski hanya kepada anak anak ku sendiri. Namun bagaimana jika mengalami sendiri sakit itu, apa dengan lancar mengeluarkan kata kata dengan mulut untuk legowo menerima sakit????. Semoga nalar ini terus diingatkan untuk kuat dan penuh kedaulatan diri dari keadaan apapun termasuk datangnya sakit.

Sepuluh hari terakhir, anak anak terkena penyakit kaki dan tangan ✋, bintik bintik yang tidak terasa gatal menghiasi kulit. Enggak tau kenapa orang orang menyebut dengan nama flu singapur.

Rara, si bontot lebih dulu terdapat bentol bentol di tangan dan kakinya. Kemudian Thole menyusul lebih banyak pada bagian siku 💪tangan dan lutut kakinya. Sedangkan anak mbarep Naswa mengalami untuk kedua kalinya.

Berbeda dengan “cangkrangan” bentol pada kulit tidak di iringi dengan demam pada badan anak anak. Penampakan yang terlihat adalah nafsu makan dan minum susu 🍼dengan dot menjadi berkurang.

Bahkan ketika nafsu makan sudah mulai membaik, asupan susu menurun, nampak botol 🍼 yang selalu menyisakan sampai dengan setengah botol (pada thole).

Kemungkinan bentol pada rongga mulut terjadi pada Nasywa. Berkali kali merintih saat mengunyah dan menelan makanan.

Tetap tenang menemani anak anak di musim flu singapur. Ada pelajaran yang luar biasa dengan datangnya flu singapur di 🏡 keluarga yang menghinggapi tangan dan kaki anak anaku.

Satu, diingatkan atas kekuatan tauhid, bahwa semua datang dan kembali semata mata dari kehendak Ilahi Rabbi. Dua, menjadi sarana untuk saling menguatkan sesama anggota keluarga. Tiga, mengasah rasa pengertian kepada anak disaat tuntutan pekerjaan dan ekonomi menghiasi perjalanan hidup zaman milenial.

Terkadang, rasa kantuk oleh sebab capek dan rencana mengumpulkan tenaga menghadapi hari kerja menjadi tantangan dalam merawat anak. Rengekan anak meminta perhatian yang lebih dari hari hari sebelum datangnya sakit, terlewat kan bagi orang tua.

Memahami perasaan anak sama halnya berusaha memahami kehendak Sang Pencipta melalui dinamika kondisi perjalanan kehidupan baik sakit, sehat, senang, duka, lara, terpuruk, bangkit, dan seterusnya.

Semoga bermanfaat

Iklan

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Arsiparis Ditjen Migas

Join the Conversation

1 Comment

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Memulai
%d blogger menyukai ini: