Persinggahan satu, dua dan tiga

Harta yang paling berharga, adalah KELUARGA, mutiara yang paling indah adalah KELUARGA……begitu cuplikan lagu soundtrack sinema elektronik dan film Keluarga CEMARA…

Sengaja kuabadikan memori dalam suatu catatan. Berharap menjadi harta disaat ingatan sudah tidak lagi kuasa. Rangkaian kata kata dari perjalanan hidup sederhana seseorang manusia biasa namun tetap mutiara karena keluarga.

Keluarga sebagai persinggahan yang penuh makna. Dahulu menjadi anggota keluaga dan sekarang kepala keluarga. Jika sedari tahun 1982 s.d. 2002, aku adalah anak dari bapak, sejak 2013 aku bersama dengan anak berstatus bapak.

Selain persinggahan penuh makna yang senantiasa ditemani kehadiran seorang Ibu. Keluarga menjadi harta dan mutiara yang kupunya.

20 tahun bersama Ibu, menjadi persinggahan pertamaku.

Satu kejadian yang tak terlupakan saat aku harus pentas saat di TK ABA Sleman. Berbarengan dengan hobi bapak sebagai musisi Orkes Melayu, pentas ku waktu kecil itu tidak dapat disaksikan oleh kedua orang tua ku.

Tak ada protes saat itu, justru saat masa Sekolah Dasar, melihat wajah Bapaku kalau melintas di depan SD Sleman IV (lor ndeso), nurul kecil sudah bisa berempati. Begitu berat nasib yang diterima bapaku, menjadikan mataku berkaca kaca, meneteskan air 💧 mata, tangis keharuan.

Persinggahan pertama sebagai anak, menjadi spesial kala naik sepeda 🚴onthel, pinjam dari simbah kakung, untuk mendapatkan nomor induk siswa di SMPN Banyurejo. Adalah ibuku, Alm. Romilah gagah perkasa mengayuh sepeda puluhan kilo dari SMP 2 Sleman di Murangan menuju ke daerah Kemusuk, perbatasan tempel dengan Godean.

Tiga tahun menempuh pendidikan menengah pertama yang berjarak lebih dari 10 KM dari Sucen. Meski berbadan kecil, dan belum sunat, saya naik sepeda BMX kW, menembus persawahan pada tiap harinya. Sepeda yang didapat dari usaha pinjaman orang tua pun setia menemani, meski kadang harus bolak balik untuk kegiatan PRAMUKA sore di sekolah saat hari Jum’at.

Di kelas dua mulai dengan sepeda Federal, sebutan untuk sepeda bergigi. Ibu yang bekerja di Pabrik Bohlam terkenal dengan nama SIBALEK, produk bermerk DOP yang gulung tikar di tahun 2000 an menjadi tulang punggung keluarga. Tak kalah Bapak sebagai Tukang Batu, sebutan untuk pandai dalam membangun rumah menjadi patner yang dapat mengangkat ekonomi keluarga.

Tak ayal anaknya pun dibelikan sepeda baru dan saat Sekolah Menengah Atas (SMA), sudah dibelikan Sepeda Motor meski bukan baru. SMA 1 Sleman di Medari merupakan cerita perjalanan tiga tahun dalam masa remaja.

Tidak tau apa yang menuntut ku saat itu, lulus SMP Tidak masuk di sekolah kejuruan favorit di JOGJA, keinginan untuk kuliah memaksa berhenti satu tahun sebelum melanjutkan di sekolah umum terfavorit di Tingkat Kabupaten.

Tahun 2001 lulus SMA dengan sedikit wawasan dunia pendidikan, aku pun gagal menembus UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Namun berhasil menembus Institut Agama Islam Negeri yang saat ini terkenal dengan sebutan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Jurusan MUAMALAH, Fakultas Syariah dijalani selama dua semester membuka wawasan dunia pendidikan sebagai praktik meraih ijazah demi suatu pekerjaan. Mungkin telah ditakdirkan untuk mempertahankan hidup, aku pun memasuki lingkungan pendidikan bernama UGM.

Diploma III kearsipan menjadi program studi yang saya yakini dapat mengantar takdir ke pekerjaan yang mapan. Suatu pekerjaan untuk bertahan dari kerasnya kehidupan. Berada dibawah naungan Universitas negeri terbaik di Indonesia menambah keyakinanku saat itu, untuk menjadi PNS.

Di bulan Syawal, tahun 2002, masa persinggahan ku pun harus berakhir. Persinggahan pertamaku saat ditemani seorang Ibu yang telah mengukir jiwa dan raga untuk terus berjuang melalui jalur sekolah dan kuliah. Sang Ibu tersayang, harus kembali kehadirat Allah. Sakit yang mengiringi hidup Ibu mengawali jalan kembali kepada Sang Khaliq.

Meski saat itu, saya merasa menyesal namun dengan keimanan Islam, berat hati untuk menerima hilangnya masa persinggahan ku yang pertama. Persinggahan hangat dengan kehadiran seorang Ibu.

Sampailah pada persinggahan ku yang kedua, bersama bapak dan adik perempuan. (2002 s.d. 2012)

Selama sepuluh tahun, kehidupan menempaku dalam peran sebagai kakak dan seorang pemuda berumur 20 tahun.

Mendayu biru nya keadaan sepeninggal Ibu, saat menemani remaja 17 tahun perempuan bernama Mariya Ulfa. Tetes air mata keharuan saat menerima rapot di SMA Seyegan bersama wali murid lainnya.

Peran kakak yang berusaha merangkap peran seorang Ibu. Memori ku masih membekas saat menghadapi keinginan sang adik akan rasa memiliki HP dan Motor. Merayu dan menemani sang adik agar mau kuliah keguruan.

Mungkin jalan sang adik tidak bisa sama dengan kakaknya. Meski hampir mirip pada program bahasa di Sekolah menengah atas, namun ari , panggilan sang adik tak berjodoh untuk melanjutkan kuliahnya.

Keputusannya untuk merantau bekerja di kota Industri menjadi satu episode hingga akhirnya menjalani sebagai karyawati suatu tempat perbelanjaan di dekat Sucen.

Jiwa sebagai kakak, mungkin telah teruji sejak kecil. Menjaga adik di kala pagi sampai sore hingga berkumpul kembali bapak dan ibu di rumah. Bahkan malam pun menguji peran sebagai kakak saat jadwal pekerja pabrik Sibalec menghampiri si Ibu.

Bapak yang doyan keluar malam, mengisi malam malam bersama adik semata wayang. Sangat terasa sepeninggal Ibu, kondisi dan keadaan telah membentuk jiwa seorang kakak.

Pelajaran berharga saat itu adalah penjiwaan sebagai seorang kakak yang terlalu berlebihan, mengubur resonansi firasat ayah kepada anak perempuan nya. Istilah Kebo Nyusu Gudel menjadi gambaran pembelaan ku saat Ari memutuskan untuk menerima lamaran seorang laki laki.

Putusan ketidaksetujuan bapak, aku bantah dengan rasa penjiwaan yang berlebihan sebagai seorang kakak. Akhirnya ari pun menikah dan hadirlah ponakanku bernama Nayla.

Banyak kejadian yang menenggelamkan logika oleh luapan rasa emosional. Kejadian dalam ribuan fragmen meniti hari hari bersama bapak bernama Wahono. Seorang Bapak yang meski selalu bersitegang, namun menjadi maha guru dalam perjalanan hidup ku.

Tak dinyana, firasat ketidaksetujuan bapak menjadi kenyataan. Saat posisi ragaku tak lagi di JOGJA, ari harus merawat Nayla tanpa pendamping lelakinya. Suatu sore, biasa aku pulang tiap dua pekan Jakarta – Jogja, perasaanku sangat terluka saat mendengar pertikaian suami istri (ari dan suaminya).

Nafas terisak mengiringi keluar nya air mata, memeluk bayi mungil bernama NAYLA. Dengan motor favoritku, Jialing menyusuri persawahan untuk membuang muka yang tergores luka rasa mendalam.

Dari situlah aku pun berada pada keadaan antara cita dan Cinta keluarga. Tiap dua pekan harus pulang, hanya untuk bisa ketemu dengan Nayla.

Hingga akhirnya kehidupan menemukan bentuknya. Pedih hati mungkin yang dirasakan Ari saat melihat sang kakak harus melangkah menuju persinggahan berikutnya. Persinggahan untuk membentuk keluarga baru.

Sudah suratan takdir, beberapa kejadian yang sudah di setting oleh Sang Pencipta. Suatu fragmen yang menguji eksistensi anggota keluarga. Sebuah kejadian yang memberikan pelajaran akan labilnya nahkoda perasaan. Kembali kepada naluri berfikir secara rasional. Dari benturan antara rasa memiliki antar anggota keluarga dengan cara mengekspresikan kepemilikan.

Dengan penuh kesadaran, kudedikasikan hasil kerja tiga tahun pertama. Bentuk bulanan dari hasil pengelolaan tanah warisan Ibu menjadi kontrakan. Sampai pula dengan turut merenovasi rumah tinggal. Semua untuk bapak, adik dan Nayla.

Kini, kepedihan saat merasa kehilangan, saat terlalu berasa memiliki telah berganti. Munajat tiap sujudku saat raga terpisah jogja dan Jakarta bertemu dengan sifat Kasih dan SayangNya. Ari pun telah bertemu dengan jodohnya kembali. Nayla pun menemukan sosok ayah. Dan bapak pun merasa lega.

Persinggahan ku yang ketiga, Ana, Nasywa, Dipta, Rara.

Namanya Krestiana, dipanggil ana. Tapi di kampus dipanggil nya Elyn. Perempuan yang mau menerima segala kekurangan ku. Perempuan yang telah bersedia bermuka tebal saat bersamaku.

Aku dengan segala kekurangan ku, tak layak untuk menjadi kepala keluarga tanpa kasih dan Sayang 💕 Sang Maha segala di Dunia dan Akhirat. Atas sadar doktrin Islam yang ku peroleh dari Ibu dan guru guruku, membentuk keluarga demi persinggahan menuju alam keabadian. Menikah karena mengikuti dan meniru Junjungan Nabi.

JODOH, MATI DAN REJEKI ADALAH MISTERI. Misteri dari Sang Ilahi. Episode dandang gulo, saat perjaka pada puncak daya tarik nya, datang menjelang petang. Lima tahun terlewat sebagaimana umur 25 tahun perjaka Sang PANUTAN, MUHAMMAD mempersunting Khadijah.

Tak kuasa atas misteri Ilahi membawaku pada persinggahan ku yang ketiga.

Iklan

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Arsiparis Ditjen Migas

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: