Hari Anak Nasional

Selasa 23 Juli, info Radio mengiringi saat bersiap mengantar Nasywa (anak pertama) untuk beli DVD Rainbow Ruby, Hari Anak Nasional Indonesia sejak 1984. Tak ragu lagi mengisi hari cuti tahunan ku untuk meluangkan perhatian kepada anak.

Usai mengantar dan menjemput Dipta ke Madrasah https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/07/22/dipta-ke-madrasah/ bersiap dalam perjalanan memenuhi keinginan anak2 yang akhir akhir ini sering nonton film animasi dari chanel YouTube.

Teringat memori kebahagiaan swaktu aku masih anak2, serial sinema elektronik, Satria Baja Hitam. Memori yang tertanam sampai dewasa meski harus numpang nonton di rumah tetangga.

Kini saatnya menjadi orang tua, saat memfasilitasi anak untuk bahagia.

Tidak sengaja saya berjumpa dengan 23 Juli sebagai hari anak nasional saat meliburkan diri dari rutinitas kerja. Diri ini mempertegas kembali untuk dapat memaknai anak sebagai bagian penting dalam kehidupan.

Secara pribadi saya telah berusaha mendudukkan anak sebagai takdir penuh misteri Ilahi. Wujudnya adalah mendudukan kehadiran anak sebagai pemantik peningkatan nilai spiritual, sosial dan ekonomi.

Hari anak nasional menjadi anomali, bukan sekadar hanya momentum untuk memperhatikan anak saja, namun bersama dengan anak menggapai peningkatan nilai nilai kehidupan.

Saat merasa semakin dewasa hidup di dunia, sebagai orang tua dituntut terus menjunjung nilai spritual dan sosial. Bahkan kehadiran anak dapat menghargai nilai ekonomi.

Orang tua yang tinggal bersama dengan anak, dituntut untuk memberikan contoh nyata. Mendidik anak sama halnya mendidik diri sendiri. Saat menginginkan anak yang agamis, sebagai orang tua harus mampu menghadirkan kebiasaan spiritual di rumah dan di lingkungan bermukim.

Saat menginginkan anak yang mempunyai kecerdasan sosial, orang tua dituntut pula untuk berinteraksi sesama tetangga, teman dan keluarga. Nilai nilai sosial yang diyakini menjadi benteng atau pengendali saat manusia berada pada kekhilafan, perlu dibangun bersama dengan anak anak.

Tiap orang tua pastinya berharap agar anak memiliki penghargaan atas nilai ekonomi, bukan anak yang hidup dalam suasana hedonisme dan materialistik. Orang tua paham betul, untuk itu perlu menghadirkan suasana bersama anak. Anak bukan menjadi Obyek, namun anak menjadi subyek bersama sama para orang tua.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca. Tulisan yang menjadi pengingat saya untuk lebih memaknai kehadiran anak anak dikehidupan ini.

Iklan

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Arsiparis Ditjen Migas

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: