Ke Sleman Lagi

Kali kedua pulang kampung di tahun 2019. Sebelumnya pulang kampung kutulis pada tautan https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/02/03/pulang-ke-sleman-jogja/

Sejak jam 14.00 WIB, Jumat, 5 April, keluar tol weleri atau Km 385 lebih dari tabuh 11 malam. Saldo dalam kartu tol hanya tersisa 137 ribu saja, dengan tenang setelah menempel kartu, seorang petugas menyarankan untuk membayar tunai sebesar 177 ribu.

Ada hal yang rutin dilakukan saat pulang kampung adalah mengunjungi tempat hiburan yang murah meriah kepada anak. Selain itu, makan bersama (jajan) untuk mengenang masakan yg dulu pernah menjadi kenangan. Atau keliling2 jalan menyusuri memori dahulu dimana pernah tinggal .

Kepulangan ke Sleman kali ini selain membesuk orang tua dan mendekatkan cucu kepada kakek dan nenek mereka, ada semangat menghadapi ramadhan. Meski urung bermaaf maafkan atau mengunjungi sanak 👪 keluarga, namun adanya pertemuan, menghilangkan prasangka buruk.

Sabtu, 6 April dini hari mendekati jam 🕒 tiga, sampailah di depan rumah makan mbah ndumok. Warung yg dibilang legend, krn lebih dari 30 an tahun menjajakab bakmi dan nasi goreng ala Sleman Yogyakarta. Makanan ini yang mengingatkan memori ramadhan bersama adik sewaktu lepas ditinggal ibu nun jauh di alam yang berbeda.

Selepas istirahat di pondok 🏡 indah mertua, menyambangi bapak yang sedang dilanda meriang. Berbekal jajanan dan minuman ringan dari Markaz Swalayan, menghadirkan keceriaan cucu kepada kakeknya. Kali ini kakek kecapean, karena kerja sosial di rumah paman (lek Slamet), membereskan bangunan rumah dengan melakukan aktivitas tukang batu.

Keceriaan cucu yakni nasywa dan dipta menambah kebanggaan kakek wahono selain adanya cucu nayla (anak adik ari). Akhirnya mendarat di taman denggung dimana kesenangan hiburan taman bermain mobil 🚙 batre berjalan, kincir mini dan istana boneka menjadi sarana interaksi kakek dengan cucunya.

Tak sampai petang, krn badan kakek sudah mulai kedinginan dan besok minggu ada jadwal berkesenian sebagai musisi dangdut, berpisah untuk menuju ke Jabung.

Minggu, 7 April adalah saat untuk melegakan keinginan dipta yang masih terngiang dengan ombak dan pasir pantai Parangtritis. Bersama kakung Margino, Uti dan Om Isus mandi bersama ombak 🌊 terguling sampai menangis takut dari kehebatan alam.

Tengah hari sebelum pulang ke rumah Jabung makan bersama dari bekel makanan yang dimasak Uti malam harinya. Seperti biasanya, Dipta makan dengan lahap.

Setelah sampai di rumah, sembari mengantar Nayla balek ke Sucen, kuajak mereka ke Makam Sucen, tempat persinggahan terakhir mamaku,Romilah. Semoga mereka tau dan mengenal bahwa ada neneknya yg selama ini menjadi orang paling berjasa dikehidupan bapaknya meski telah berada di alam yang berbeda.

Senin, 8 April 🕒 14.00 WIB pun meluncur balik ke Depok dimana pagi hari sempat sarapan 🥣 soto ketingan bersama bapak Wahono, sekaligus berpamitan. Lima jam menuju jalan tol, Dipta dg julukan Thole ngewer di celana.

Hujan yang deras diikuti kilatab petir ⚡ membuat kembali istirahat setelah rest Area 294B. Tak berapa lama, dengan wirid maha suci Allah dari lisan untuk menambah keberanian mengendarai mobil 🚙, berhenti kembali di Rest Area 208. Jam 🕒 00.00 WIB dini hari Selasa 9 April memejamkan mata hampir satu jam di rest Area 102 dan menghabiskan segelas kopi hitam seharga 6.000.

Iklan

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Arsiparis Ditjen Migas

Join the Conversation

1 Comment

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: