Kemesraan Keluarga

…….kemesraan ini, jangan lah cepat berlalu…..penggalan lagu Iwan Fals. Begitu kiranya yang terjadi di suasana hati. Melalui tulisan ini, kusampaikan rasa syukur atas kebahagiaan ☺✨ sebagai anugerah Sang Pencipta.

Tumbuh bersama dengan anak dan istri merupakan penghargaan luar biasa. Meski sebagai ayah yang punya kewajiban mendidik anak, namun kumaknai sebagai tumbuh kembang bersama. Tumbuh kembang bersamaan sebagai bentuk penghargaan, bukan penghargaan dari institusi atau dari orang lain, cukup merasa berharga saat saat anak dan istri senantiasa memanggil.

Saat laju kehidupan bergerak dengan cepat, berbagai keadaan dihadapi bersama keluarga, rasanya cukup menenangkan hati. Sehat dan sakit, sedih dan gembira, suka dan suka, berat dan ringan menjadi warna yang terus menyertai keluarga. Banyaknya yang suka dan menyenangkan sih…😍

Masih di bulan Agustus, beberapa memori sengaja saya tuliskan untuk meninggalkan jejak kebersamaan. Saat besar nanti, tatkala anak2 mendapati tulisanku, mengharap mereka dapat memaknai kebersamaan dalam kerangka Syukur kepada Sang Khaliq.

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/08/06/flu-singapur/
Misalnya pada tautan di atas, saat anak2 mengalami sakit dlu singapur, memaknai sehat dan sakit menjadi bagian dari perjalanan hidup.

Aktivitas bersama keluarga seperti pulang ke Sleman menjadi liburan yang penuh makna, pada tulisan berikut
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/08/11/memori-di-sleman/

Sedangkan di bulan Juli, ” kebersamaan adalah liburanku’ ku ungkap melalui tulisan https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/07/30/berlibur-adalah-bersama-%f0%9f%8c%bf%f0%9f%8d%83/

Bulan Juli pula, saat bang Thole meneriakkan kegemaran dan kebahagiaan dengan “mainan di tulisan https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/07/12/mainan-thole/

Sisi kehadiran seorang istri tatkala kita mempunyai bayi, menjadi pertimbangan akan arti suatu kesetiaan. Pada tulisan https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/07/08/kemesraan-dengan-bayiku/
Repot jika dapat giliran menjaga anak bayi.

Anak mulai beranjak pada masa sekolah, menjadi perhatian untuk orang tua. Ulasan yang bertepatan dengan hari anak nasional, https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/07/24/hari-anak-nasional/ merupakan memori cuti kerja hanya untuk anak.

Belum pasti, bentuk perhatian yang bagaimana tatkala bocah 4 tahun dikenalkan dengan bangku sekolah. Sampai hari ini, Thole masih enggan bersekolah.
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/07/22/dipta-ke-madrasah/

Dan kita, orang tua, masih menaruh harapan, bentuk cita cita, menerima misteri akan takdir anak anak setelah besar nanti. Bisakah Nasywa mempunyai karya ????
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/06/30/nasywa-calon-penulis-ternama/

Iklan

Teladan dari Lamongan

Sianh itu, saat berada di Lobby gedung DPR RI, pertanyaan kepadaku oleh ibu Direktur SDM Kearsipan dan Sertifikasi ANRI atas kondisi temen temen arsiparis di Kementerian ESDM hasil jalur Inpassing memantik untuk merangkai kata dalam suatu tulisan.

Meski hanya menjawab secara umum bahwa dalam kondisi baik, namun otak ini terusik atas pertanyaan tersebut. Apa yang akan didalami oleh seorang pimpinan tinggi pratama yang melaksanakan secara langsung tugas pengangkatan arsiparis melalui jalur inpassing.

Obrolan kemudian harus terputus saat mengenalkan teman sesama arsiparis dari Kabupaten Lamongan yang bagi penulis merupakan sosok tertindas. Kiprah arsiparis terampil yang berjibaku untuk perjuangan kearsipan pada pemerintah daerah Jawa Timur, perlu diberikan apresiasi.

Legitimasi anugrah teladan berupa sertifikat, pikirku dapat mengobati ketertindasan nya. Bayangkan selama puluhan tahun berkarir di pemerintah kabupaten Lamongan sebagai PNS masih dalam jabatan arsiparis terampil jenjang mahir.

Meski Agus Buchori akhirnya hanya menerima sertifikat keikutsertaan ajang pemilihan arsiparis teladan nasional 2019, urung mendapat peringkat, namun bagi penulis telah menginspirasi keteladanan kearsipan 2019.

##########

Terusik pertanyaan ibu Zita…

Pengusulan dan pengangkatan seperti halnya ARSIPARIS dalam manajemen pegawai negeri Sipil dapat ditinjau dari sisi kedudukan sebagai jabatan fungsional berada dibawah dan bertanggung jawab secara langsung kepada pejabat paling tinggi di tangan pejabat eselon dua (pimpinan tinggi pratama). Dalam pengusulan pengadaan arsiparis terkait erat dengan analisa tugas dan fungsi unit kerja, beban kerja, dan analisis jabatan.

Pemaknaan keberadaan Jabatan fungsional seperti arsiparis di suatu unit kerja berada pada fungsi pelayanan yang mendasarkan pada keahlian dan ketrampilan. Selama kurang lebih 1.250 jam kerja dalam satu tahun, keberadaan jabatan fungsional seperti arsiparis diukur dengan minimal adanya tiga kriteria yakni metodologi, teknis analisis dan teknik prosedur kerja.

Ketiga kriteria tersebut berdasarkan ilmu pengetahuan dan atau pelatihan teknis tertentu yang dibuktikan dengan sertifikasi.

Hal diatas merupakan isi sebagian dari peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia nomor 13 tahun 2019 tentang Pengusulan, Penetapan, Pembinaan Jabatan Fungsional yang ditetapkan pada bulan JULI 2019.

Pengangkatan melalui inpassing merupakan salah satu jalan selain pengangkatan pertama kali melalui formasi CPNS dan perpindahan dari jabatan lain.

Jumlah arsiparis pada suatu instansi yang tidak seimbang dengan beban kerja arsiparis dan kesulitan dalam pengangkatan pertama kali, maka dapat membuka jalur inpassing.

Peraturan Kepala ANRI nomor 5 tahun 2019 tentang tata cara pengangkatan PNS dalam jabatan fungsional ARSIPARIS melalui inpassing diperuntukkan bagi
1. PNS yang memiliki SK sebagai petugas pengelola arsip
2. PNS yang telah naik pangkat namun memiliki SK formasi kearsipan
3. Pejabat eselon 2, 3 dan 4 yang memiliki kesesuaian dengan arsiparis (pangkat, golongan ruang serta nomenklatur jabatan)
4. Arsiparis yang diberhentikan sementara karena meniti jabatan struktural
5. Arsiparis yang tidak mengumpul kan penilaian lebih dari lima tahun
6. Instansi yang memiliki lowongan arsiparis dalam peta jabatan instansi dan e-formasi

Persyaratan impassing antara lain;
1. Berijazah minimal Diploma III untuk arsiparis keterampilan, S1/DIV untuk keahlian
2. Paling rendah golongan 2c untuk ketrampilan dan 3a untuk keahlian
3. Usia maksimal 56 tahun untuk jenjang ketrampilan, pertama dan muda
4. Usia maksimal 58 tahun untuk jejang Madya.
5. mengikuti dan lolos Uji Kompetensi
6. Nilai prestasi kerja minimal bernilai BAIK

Bagi instansi yang akan mengajukan inpassing dapat menjaring kepada PNS yang memenuhi persyaratan kemudian menyampaikan permohonan yang dilengkapi dengan daftar nama kepada Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia, dengan tembusan MenPAN&RB.

Yang perlu diperhatikan adalah batasan usia PNS yang dilampirkan pada daftar permohonan inpassing sebagaimana persyaratan. Dan dapat dilakukan sebelum tanggal 6 April tahun 2021.

Berdasarkan kelengkapan administrasi, maka Arsip Nasional akan merilis daftar PNS yang lolos verifikasi untuk kemudian wajib mengikuti Uji Kompetensi.

Kepala ANRI menerbitkan rekomendasi yang berlaku selama dua tahun sejak tanggal ditetapkan. Rekomendasi akan disampaikan oleh Deputi Pembinaan Kearsipan kepada Pejabat Pembina Kepegawaian dalam rangka pengangkatan arsiparis.

ANRI selaku instansi pembina kearsipan akan menyampaikan rekapitulasi pengangkatan arsiparis melalui jalur inpassing kepada Menpan&RB dan Kepala BKN.

MONEV E SURAT DITJEN MIGAS

Catatan monitoring dan evaluasi persuratan Ditjen Migas yang diselenggarakan di Wisma Energi merupakan pertemuan ketiga kali dalam tahun 2019.

Pertama kali pada tahun 2019 dilaksanakan pada akhir bulan Mei yang dipicu dari tuntutan Penilaian Reformasi Birokrasi sebagaimana tautaan berikut:
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/06/01/291/

Kamis, 22 Agustus 2019 sebanyak 42 orang pengadministrasi umum dan sekretaris pimpinan serta petugas arsip di lingkungan Ditjen Migas mengikuti forum diskusi dalam kerangka pemberian dukungan administrasi direktorat jenderal.

Bu Ike, Kasubag Tata Usaha Ditjen Migas membuka acara diskusi yang diawali dengan brainstorming alur proses persuratan. Proses persuratan yang diawali dengan proses registrasi dilaksanakan oleh petugas penerima surat di ruang Mailing Room untuk surat masuk yang berasal dari luar instansi Ditjen Migas. Sedangkan untuk surat yang berasal dari dalam instansi Ditjen Migas, registrasi surat dilaksanakan oleh para sekretaris dan pengadministrasi pada unit eselon III.

Bu Hening, Kasubag Kepegawaian dan organisasi mempertegas kembali bahwa di tahun 2019, posisi aplikasi persuratan menjadi salah satu produk administrasi untuk dimasukkan pada Zona Integritas (ZI). Bersama dengan aplikasi yang lain di antara aplikasi perencanaan anggaran (IRAMA), aplikasi pengukuran kinerja (SIMERAK), dan Call Center Hallo MIGAS.

Predikat yang diberikan kepada instansi pemerintah yang pimpinan dan jajarannya mempunyai komitmen untuk mewujudkan WBK/WBBM melalui reformasi birokrasi, khususnya dalam hal pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan publik menjadi tujuan dari pelaksanaan Zona Integritas (ZI).

Melalui edaran Seskretaris Ditjen Migas pada bulan Mei 2019, aplikasi persuratan yang dimaknai sebagai sarana perkantoran dengan pendekatan pemanfaatan teknologi informasi untuk meraih perubahan pada area ketatalaksanaan.

Sebagai salah satu sarana dalam melakukan registrasi, disposisi serta dokumentasi persuratan, aplikasi persuratan atau e surat Ditjen Migas dapat mendekati kebutuhan para pimpinan sampai dengan pengadministrasi.

Kondisi perkantoran saat ini, disaat kebutuhan kecepatan konektivitas antar unit, hubungan antar jabatan untuk mengimbangi kecepatan pelaksanaan tugas organisasi, dibutuhkan pendekatan sistemik antara pegawai dan sarana kerja yang berbentuk teknologi informasi dan jaringan internet.

Untuk itu, forum diskusi monitoring evaluasi persuratan terus diinisiasi oleh Sekretariat Ditjen Migas untuk mengukur implementasi sarana kerja berupa aplikasi e surat. Forum sebagai kelanjutan pertemuan kedua pada bulan Juli sebagaimana tautan berikut
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/07/05/419/

Dinamika forum pun menunjukkan kemanfaatan implementasi e surat sebagai disampaikan oleh Ganjar perwakilan peserta yang hadir. Selaku sekretaris direktur perencanaan dan pembangunan infrastruktur Migas, merasakan sangat terbantu dalam melakukan monitoring disposisi pimpinan melalui fasilitas jurnal disposisi. Mail handling atau pengurusan surat mulai dari registrasi, distribusi, pengendalian sampai dengan penelusuran dapat terbantu dengan sarana perkantoran berupa aplikasi e surat.

Meski demikian, kejadian e surat pada sebulan terakhir saat beberapa kendala yang mempengaruhi performa aplikasi perlu dipahami oleh seluruh pegawai yang mempergunakan fasilitas tersebut.

Pada tautan berikut menggambarkan proses maintenance dan pelaksanaan optimasi aplikasi e surat yang telah berhasil berpindah ke server baru dengan OS LINUX.
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/08/13/perawatan-aplikasi-persuratan/

Akhirnya, selaku tim persuratan melalui tulisan ini mengucapkan terimakasih atas kerjasamanya kepada unit IT Ditjen Migas up. Agus Mendrova, unit kepegawaian dan organisasi Ditjen up. Hening setya para pengadministrasi dan sekretaris pimpinan di lingkungan Ditjen Migas

Semoga urusan persuratan direktorat jenderal dalam kendali pengawasan Bu Ike dan penanggung jawab administrator bapak Mukti Yunarso, dapat terus mengawal bentuk layanan perkantoran untuk penyediaan dukungan manajemen internal Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.

Semoga bermanfaat

Rincian tugas arsiparis

Arsiparis Madya di Lembaga Kearsipan Perguruan Tinggi Negeri yang beralamat di Bogor, menyampaikan kegelisahan kepada penulis untuk dijadikan tema satu ulasan/tulisan.

Sabtu, 17 Agustus 2019 saat menanti penganugerahan arsiparis teladan tahun 2019, secara lugas arsiparis yg juga merangkap jabatan struktural tersebut menyampaikan kepada penulis bahwa fenomena tugas jabatan arsiparis yang semakin hari dapat bertabrakan dengan tugas jabatan pranata komputer dan pranata humas

Arsiparis yang juga pernah menjadi teladan pada kategori ahli di tahun 2016 dan 2017 merasa khawatir jika peran tugas arsiparis kebablasan, mengambil area kerja jabatan fungsional tertentu lainnya.

Persinggungan dengan jabatan pranata humas, tatkala arsiparis memiliki domain pekerjaan mengolah arsip menjadi informasi dengan bentuk daftar arsip, maka bagaimana estafet peran dengan jabatan lainnya???

Persingungan dengan jabatan pranata komputer dalam tiga tahun terakhir ini menjadi fenomenal dan viral. Pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan volume dan konektivitas unit kerja atas kebutuhan arsip menjelma menjadi jurus ampuh. Tak heran jika produk aplikasi yang menterjemahkan konsep otomasi kearsipan banyak digandrungi.

Pendapat yang melihat persinggungan antar tugas jabatan fungsional memerlukan diskusi lanjutan sehingga lebih mengakar pada realita yang ada.

Menurut penulis, tumpang tindih antar pekerjaan fungsional, bertabrakan peran jabatan fungsional dalam satu institusi pemerintahan, saling ambil tugas antar jabatan fungsional merupakan dinamika organisasi yang tidak bisa dihindarkan.

Tatkala Perjanjian KINERJA para pejabat administrator yang menterjemahkan rencana kinerja tahunan suatu instansi telah ditetapkan, yang nampak adalah skala prioritas kebutuhan untuk mendukung pencapaian rencana strategis lima tahunan pada instansi masing masing.

Para administrator pun mengaplikasikan program kegiatan pada rencana kerja anggaran kementerian dan lembaga yang mendukung pencapaian kinerja institusi secara keseluruhan pada tiap tahunnya.

Penulis merasa perlu untuk mendudukan kondisi kinerja pejabat struktural yang tercantum pada perjanjian kinerja untuk melihat keseluruhan peran para fungsional tertentu di institusi terkait.

Jika kinerja yang terjadi di jalur struktural saja masih terkesan meraba, maka jangan menuntut lebih kinerja para fungsional tertentu.

Maka tak heran kreativitas arsiparis yang dapat dipandang bertabrakan dengan pranata komputer serta pranata humas masih mendapat legitimasi dari unit kerja pengguna (instansi terkait).

Yang diperlukan institusi adalah produk yang nyata yang dapat memberi manfaat cepat dan dapat diunggulkan. Tak perduli dari jabatan manakah yang dapat menyediakan atau menghasilkan karya demi menjadi bahan untuk dimasukkan dalam Perjanjian kinerja para pejabat administrator.

Terlebih bagi para arsiparis yang dapat mengawal mulai dari proses perencanaan anggaran, review anggaran, pelaksanaan pengadaan, implementasi, evaluasi sampai nanti jika ada temuan dari Itjen dan BPK. Hal tersebut sudah tidak lagi melihat rumpun jabatan fungsional tertentu. Bahkan bisa jadi melepas perbedaan jalur struktural dan fungsional.

Meski demikian, ada benarnya juga mendiskusikan kiprah arsiparis agar tidak terlalu mendominasi pada peran keseluruhan kinerja organisasi yang dilaksanakan banyak fungsional tertentu.

Saya akhiri saja ulasan ini, dengan menyampaikan pertanyaan balik, Dimanakah letak kode etik arsiparis?????? Sudah lama tidak mendengar gaung keberadaan kode etik arsiparis.

Perlu kiranya Asosiasi Arsiparis Indonesia kembali mensosialisasikan kode etik sebagai salah satu rambu2 dalam menjaga profesionalitas. Dengan meletakkan kode etik, kiranya dapat menjawab diskusi kita tentang perbedaan lokus rincian tugas arsiparis dengan pranata humas dan pranata komputer.

Demikian ulasan ini untuk menjawab pertanyaan Pak Edy sebagai arsiparis di Lembaga Kearsipan Perguruan Tinggi Institut Pertanian Bogor (IPB) dan sekaligus pengurus AAI.
Semoga bermanfaat

Rela demi Organisasi

Rasa terharu setelah mendengarkan cerita dari laki lebih paruh baya, berkumis putih, dan satu tahun lagi pensiun. Tak nampak kecewa jika perpindahan jalur karir ASN mengharuskan beliau kehilangan 1 s.d. 2 juta per bulan.

Sampai dengan tahun 2019 saat penulis berkenalan di ajang pemilihan arsiparis teladan di ANRI, pangkat II/d di jabatan arsiparis belum lah disetarakan dari jabatan pengawas yang sebelumnya diemban dengan golongan ruang III/d.

Meski mulai aktif kembali pada jabatan arsiparis di tahun 2015, jabatan terampil pelaksana masih menjadi dasar pemberian tunjangan kinerja.Tiga sampai empat tahun berjalan mengemban tugas pada jabatan arsiparis terampil, menginspirasi ku atas jiwa besar menerima tugas dari pimpinan. Tak sedikitpun memprotes perpindahan jalur pengabdian meski mengalami turun kelas jabatan.

Portofolio beliau cukup bagus. Lepas tugas/ijin belajar diploma tiga program studi kearsipan kota Bandung tahun 2003, singkat cerita beliau promosi ke jabatan struktural.

Sampai saat ini, kebingungan ku memahami jalur terjal karir arsiparis bapak satu ini masih saja menyisakan tanda tanya besar. Bagaimana perhatian dari pembinaan karir pegawai saat kelas jabatan level pejabat pengawas (9) harus turun ke kelas jabatan arsiparis terampil pelaksana (6).

Keharuan ku telah menembus batas nalar hingga ngkat topi sebagai tanda penghormatan baginya. Nilai teladan telah tertanam di diri bapak yang masih menanggung anak SD di rumahnya.

Gaji masih di golongan III/d menjadi hiburan, meski kadang harus merelakan tidak memperdulikan kelas jabatan. Selamat kepada pak Djoko Trianas. Anda layak dapat bintang

Kejutan dari Semarang

Tiap hari mendapat kejutan dengan menulis. Tentu kerja menulis membuahkan bermacam macam manfaat. Misalnya saja manfaat melatih pola pikir yang sistematis, melatih konsistensi, konsentrasi dan konon menjaga kepikunan.

Tentunya merangkai kata kata menjadi suatu kalimat memerlukan fokus, konsistensi, dan pola pikir sistematis agar tersusun dengan rapi. Pun tatkala kalkmat menjadi paragraf sampai keterhubungan inti tulisan pasti menjadi pemikiran dalam menulis. Saking mikirnya, alhasil susunan kalimat dalam paragraf yang berbeda terkesan berulang ulang.

Varian motivasi seperti koin, poin atau eksistensi membangkitkan gairah untuk menulis. Tapi sayang, aktivitas menulis, tidak lagi menjadi kegiatan utama arsiparis. Sebagaimana bagian akhir tulisan pada tautan berikut
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/02/13/penilaian-arsiparis-via-skp/

Menjelang pulang kantor, mendapat kejutan berharga bagi pribadi saya tatkala seorang arsiparis yang belum kenal sebelum mengirim pesan singkat seperi kutipan berikut:

19/8 15.27] arsiparis: “Assalamualaikum…selamat sore….benar njenengan mas Nurul muhamad….kenalkan saya Arsiparis Kementrian Kelautan dan Perikanan yg bertugas di UPT Semarang. Saya tertarik dg tulisan2 jenengan, Boleh ser dong, saya yg lagi belajar menulis khususnya ttg kearsipan, Saya belum punya pengalaman menulis, kebetulan bulan kemaren saya di suruh ikutan nulis jurnal pari tentang Arsiparis”

Kalo dibilang berpengalaman, saya juga tidak punya portofolio sebagai penulis sih πŸ€”. Hanya sempat mengikuti satu mata kuliah jurnalistik dengan beban 2 SKS, itupun sudah lama sekali dan tidak pernah inget kalo dulu diajari teori jurnalistik.

Kalo menulis ilmiah, dulu sih pernah 3 SKS, dengan pendekatan metode penulisan karya tulis ilmiah populer, dosen ku pak Machmoed Effendie. πŸ˜‰. Dan itupun 14 tahun yang lalu.

[19/8 15.30] Arsiparis: “Dg keterbatasan pengalaman dan pengetahuan saya jadilah jurnal ….dg nilai koreksi 69 nilai yg mepet sekali dan banyak perbaikan, Sebenarnya dlm otak banyak yg ingin di tulis tapi ko blm bisa tertuang dalam tulisan. Saya ingin belajar dg njenengan ne….biar bisa menulis yg lebih baik”

Responku pun tak bisa berlebih, “Saya hanya penulis gadungan kok bu. Yuk kita belajar bersama. Bisa karena terbiasa”

Bagi ku, kejutan hari ini adalah respon keberadaan kita untuk sesama pekerja arsip. Meski berbeda instansi namun punya jembatan yang sama untuk terus mengolah arsip menjadi informasi. Bahkan lebih dari itu, ada semangat memaknai perjalanan instansi dalam pelaksanaan kehidupan berbangsa

[19/8 15.32] arsiparis: Kr ada rencana ingin membuat catatan torehan Sejarah Kantor Kami…yg penuh dg SEJARAH πŸ˜…

Terimakasih ibu atas responnya, semangat terus dalam pelaksanaan tugas arsiparis. Meski sendirian di kantornya, namun tetap meluangkan waktu untuk usaha menciptakan keabadian informasi terekam.

Kita selaku arsiparis, tak harus kecil hati, saat hasil karya tulis (domain pengembangan profesi) hanya menjadi kegiatan penunjang atau tambahan. Semoga ada mata yang membaca tulisan kita kemudian dapat menginspirasi revisi menjadi kategori bukti kerja pada kegiatan pokok kearsipan.

“Kembalikan kegiatan pengembangan profesi menjadi kegiatan pokok arsiparis” kata mas Fery Tri Mudah dalam presentasi ajang pemilihan arsiparis teladan tingkat nasional 2019. Arsiparis dari provinsi Jawa Timur yang ahli pada kajian dengan produk mengukur tingkat persepsi atau partisipasi publik dengan basic statistik

Semoga bermanfaat

Penulis Ilmiah atau Cerpenis

Berkesan tatkala bertemu senior sewaktu masih SMA, tepatnya di sekolah menengah atas daerah Sleman Yogyakarta, yang saat ini memiliki kemampuan menulis bagus. Meski terkesan kalem, namun jabatan sebagai pemimpin redaksi menunjukkan kiprahnya dalam tulis menulis. Berdinas di Pusat Arsip UGM, hari hari dijalaninya untuk membuat beberapa produk organisasi berbentuk jurnal dan majalah. Alih jenjang dari tingkatan terampil ke jenjang keahlian melegitimasi kompetensi sebagai pengolah arsip menjadi bungkusan sumber informasi.

Satu lagi bertemu dengan cerpenis lamongan yang juga senior saat kuliah, Diploma III Kearsipan UGM Yogyakarta, memacu diri ini terus membiasakan dalam menulis. Kecerdikan dalam mengolah kata kata menjadi suatu alur cerita ditunjukkan dengan karya cerpen yang telah beredar seantero negeri. Meski jabatan arsiparis, tak mematahkan semangat literasi sebagai bagian dari komunitas sastra Indonesia.

Berjumpa dengan dua orang diatas dalam suatu adegan kompetisi pada beberapa hari yang lalu, merupakan ketersanjungan. Perjumpaan yang juga menembus rasa penghormatan untuk senior yang dulu sempat mengenyam suasana kampus biru Yogyakarta.

Dua gaya yang berbeda dalam menulis, menyiratkan sinyal padaku tentang tujuan dan motivasi kegiatan tulis menulis. Gaya penulisan ilmiah yang dimuat dalam jurnal membentuk penampilan formal dan sistematis dalam diri Herman Setyawan. Sedangkan penulisan bergaya sastra, menjadikan sosok agus Buchori terlihat layaknya inteprenuer. Interprenuer yang memikat banyak orang dalam sekali penampilan.

Waktu akan terus berjalan, dan sampai hari ini aku tidak dapat menentukan pilihan mau memilih jalan seperti mas Herman atau mas Agus. Karena bisa saja aku diciptakan dengan keunikan sendiri.

Keabadian dalam suatu tulisan, kadang tak dapat dibedakan hanya dengan gaya penulisan. Kutipan pada penulisan ilmiah, kadang juga tak kalah ramai saat tulisan sastra dapat menggerakkan kebebasan pemikiran.

Puji dan Syukur kepada Sang Penguasa Semesta Alam, yang membukakan wawasan kebijaksanaan dengan jalan bertemu dua sosok senior yang rajin menulis. Sejak hari ini, kalian sebagai penginspirasi untuk terus bersemangat dalam karya membuat suatu tulisan

Starter kearsipan

Ajang pemilihan arsiparis teladan 2019 berakhir di Hall Lt. 26 Hotel Aston Priority pada sabtu, 17 Agustus kurang lebih 22.00 WIB. Menjadi bagian langsung dari perhelatan tersebut menyisakan gairah kearsipan baru. Gairah itu tak lagi menggebu gebu. Pun tak jua mendayu biru. Palagi meledak πŸ’₯ledak seperti bunyi petasan.

Baca juga
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/08/17/teladan-atau-terbaik/

Saat kita mempergunakan logika kinerja motor, bunyi suara stater yang meledak ledak justru menandakan kinerja motor kurang sehat. Pada mesin F1 misalnya, bunyi starter yang lembut saja dapat menghidupkan mesin asalkan disambut dengan kinerja onderdil busi motor yang masih sehat.

Begitu kiranya penulis menggambarkan gairah arsiparis. Arsiparis tak perlu untuk meledak ledak dalam menjalani gairah kearsipan. Cukup dengan memastikan bahwa kinerja sebagai arsiparis ibarat starter berjalan dengan normal. Karena saat menjadi starter maka kita hanya berfungsi untuk menghidupkan kinerja kearsipan dalam instansi.

Keseluruhan fungsi onderdil motor lah yang menjadi penanda performa mesin. Bukan semata mata starter namun keseluruhan sejak fungsi busi, pengaturan bahan bakar, tarikan gas, sampai dengan keluarnya asap hasil pembakaran energi di dalam mesin. So…semua berkaitan.

Baca juga
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/08/17/finalnya-teladan/

Hal di atas hanya salah satu persepsi dalam memandang ajang pemilihan arsiparis teladan yang berjalan dari tahun ke tahun. Kebetulan penulis mengikuti selama tiga kali (2014, 2016,2019). Ketiga kalinya menjadi bagian perhelatan bergengsi bagi komunitas kearsipan menuntun penyelaman sisi sisi keseluruhan.

Baca juga
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/08/16/uji-kearsipan-ke-uji-kebangsaan-artelnas-2019/

Fungsi mesin yang berjalan normal pun belum mutlak menentukan performa suatu kendaraan. Kebijakan pembinaan kearsipan nasional lah yang menjadi tolok ukur dari kontribusi suatu instansi yang menangani urusan kearsipan.

Bunyi suara mesin yang menyala secara sporadis kadang ditengarai sebagai kelemahan performa kendaraan. Kendaraan yang normal, dengan pengaturan dari pabrik pastilah berbeda dengan pengaturan turn up. Pada logika ini pun, menuntun kebijaksanaan kita untuk memahami kepentingan yang terdekat sesuai dengan kebutuhan. Apakah mesin pada pengaturan pabrik atau pengaturan turn up.

Mesin kearsipan berada di instansi yang tersebar pada 34 kementerian, 34 lembaga non kementerian, dan 34 pemerintah provinsi yang menaungi ribuan orang arsiparis sebagai starter pembinaan kearsipan nasional.

Tatkala kebutuhan terdekat untuk pacuan dan lompatan kearsipan, maka pilihan pun jatuh pada mesin dengan pengaturan turn up. Nalar pun dapat mengerti tatkala persepsi mengerucut pada kebijaksanaan.

Baca juga
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/07/17/kompetisi-arsiparis-teladan/

Meski sebagian besar menyisakan tanda tanya besar untuk para startup urusan kearsipan yang melihat sebagai ajang perlombaan demi pengakuan legitimasi prestasi.

Semoga bermanfaat

Finalnya ‘Teladan’

Sesi final dari ajang perlombaan, beragam ide dan gagasan urusan kearsipan dengan berbagai peran dan unit kerja harus dipertahan dengan kelihaian mengatur kata dengan lisan demi menarik perhatian para pemberi nilai. Konsep pemikiran dikembangkan menjadi ide gagasan serta inovasi harus dibuktikan tatkala berperan nyata demi pencapaian kinerja organisasi.

Ajang penilaian dengan dua tingkatan pekerjaan yang sebetulnya berbeda sudah tidak lagi membedakan rincian tugas sesuai jenjang jabatan. Yang kemudian ditampilkan adalah pertunjukan untuk memikat penilaian dewan juri.

Prestasi arsiparis dengan bukti karya, peran serta pun dengan lugas disampaikan diatas podium. Branding prestasi dibungkus dengan tatanan paparan apik memikat audience. Sampai pada akhirnya saat kepercayaan diri diuji dengan pendalaman pertanyaan oleh dewan juri.

Meleset sedikit dan ketidaktepatan presisi tak menjadi soal karena keterbatasan waktu panggung. Semua bernilai demi ajang yang menjadi tolok ukur keteladanan. Teladan bagi instansi masing masing. Teladan yang mempertemukan masalah dengan solusinya. Keteladanan yang dijadikan jangkar kapal saat bersandar.

Jangkar pembinaan arsiparis skala nasional diharapkan mampu untuk menyandarkan berbagai permasalahan kearsipan pada hari ini. Tatkala jangkar telah jatuh pada dermaga, solusi apa yang telah disuguhkan untuk mengurai benang kusut pembinaan kearsipan hari ini???

Rangkaian penguraian benang kusut kearsipan skala nasional, tak luput dalam penentuan jangkar keteladanan. Nalar pun bisa memaklumi, semua demi solusi yang menyatu dalam harmoni demi kearsipan nasional yang lebih baik.

Terimakasih atas jangkar keteladanan Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemprov DKI, Kementerian Riset Dikti, dan Pemerintahan Provinsi Jawa Timur.

Lima instansi yang mengharmonisasi dalam mengurai beban pembinaan kearsipan nasional. Instansi yang telah menelorkan arsiparis berprestasi. Instansi yang menjadi perguruan arsiparis. Instansi yang telah menempa manusia hebat Indonesia menjadi pendekar tangguh untuk harapan penyelamatan memori kolektif bangsa Indonesia. Instansi yang terus memperhatikan arsiparis dan kearsipan, demi menjadi simpul pemersatu bangsa.

Semoga bermanfaat

Teladan atau Terbaik

Semangat menjadi terbaik kadang bisa mengaburkan semangat menebar keteladanan. Dua kata yang mungkin bisa berbeda rasa antara ‘ terbaik’ dan ‘teladan’. Berasa dalam suatu ajang lomba, tak dipungkiri pemilihan arsiparis teladan menjadi seolah ini menjadi pembuktian kata ‘terbaik’.

Terbaik di tingkat unit kearsipan masing masing instansi sebagai persyaratan pengiriman peserta, lebih mencuat ketimbang persyaratan keteladanan. Pada posisi ini, bisa jadi menjadi awal dalam menyamarkan perbedaan arti kata terbaik dengan teladan.

Kadang perbedaan sudah tidak menjadi permasalahan lagi tatkala suatu proses telah berjalan. Toh perbedaan dua arti kata tersebut hanya terkait dengan niat dan semangat. Meski nantinya dapat pula mengaburkan tujuan sebenarnya terkait semangat ‘keteladanan’, namun gemuruh dari komunitas sampai dengan khalayak ramai untuk menyebut ajang ini sebagai perlombaan.

Teladan tetap menjadi tujuan dari beberapa peserta, tatkala hari kedua di sesi FGD. Suatu kebersamaan untuk berbagi peran dalam mendiskusikan tema yang telah ditentukan. Simulasi kerjasama yang hanya terbatas 30 menit memang belum menjadi ukuran. Tp cukup lah untuk mengingatkan tujuan awal bahwa ajang ini adalah PEMILIHAN ARSIPARIS TELADAN NASIONAL

Baca juga

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/08/16/uji-kearsipan-ke-uji-kebangsaan-artelnas-2019/?preview=true

Buat situs web Anda di WordPress.com
Memulai