Secuil kebersamaan

Hal yang melegakan adalah ketemu jumat sore setelah sampai di rumah. Sabtu dan Minggu menjadi hari santai. Ada aja ide kumpul seperti di tanggal 16 Juni 2019 saat makan bersama di komplek domisili ku ini.

Meski terlewat pesta patin dan nila di hari minggu itu, namun sempat mengikuti persiapan. Rasa senang membekas di hati.

Sudah sewajarnya manusia memupuk suasana bersahabat dengan lingkungan sekitar. Rasa bersahabat untuk menggapai rasa betah. Saking betahnya, tak terasa di Agustus 2019 nanti menjadi tahun kelima tinggal bermukim di Villa Tanah Baru.

Untaian aktivitas di komplek tiap akhir pekan memiliki kecenderungan bertaman dan bersih bersih lingkungan. Dari celetukan bapak bapak saat bertahan muncul ide bersama untuk bertanam sayuran di lahan fasos hingga akhirnya membawa kesepakatan mendirikan tempat nongkrong. Kita beri nama “cakruk”.

Lepas terbangun cakruk di bulan ketiga tahun 2016, dan sempat uji coba memelihara gurami pada tong, kemudian di Tahun 2017 membuat kolam ikan 🐠🐋🐟. Hal tersebut menjadi pilihan yang menjadi titik kumpul saat lepas dari cengkeraman anak dan istri. Cakruk, bersih-bersih lingkungan atau kerja bhakti, taman, dan kolam ikan memberikan selingan aktivitas 🏡 rumahan.

Pada bulan kesepuluh tahun 2017 mulai memelihara ikan Lele. Dan bulan kedua belas menebar benih ikan bersisik, Gurami, Nila, Patin, dan Bawal. Hasrat membara untuk panen ikan menyulut rasa kebersamaan. Sedari menguras tiap pekan dan memberi empan tiap waktu senggang. Saat panen ikan, semakin erat rasa kebersamaan itu dengan makan bersama di cakruk.

Tatkala televisi menyiarkan pertandingan bola yang menyuguhkan tim kebanggaan atau saat tim nasional Indonesia berlaga, menjadi waktu membersamai makan ikan 🐠🐋🐟 bersama di Cakruk.

Hal hal tersebut mengharmonisasi hidup komunal. Hal yang tercipta dari aktivitas komunal dalam lingkup komplek. Tak pelak itu bakal terpatri di benak anak anak sebagai sarana memupuk dan membina kerukunan hidup bertetangga jika besar nanti.

Selama taun 2018 acara panen ikan dan makan bersama menjadi bagian terkecil pembentuk kesadaran tenggang rasa. Bahkan saat suatu komunitas tertekan adanya kebutuhan dana swadaya.

Di penghujung tahun 2018, saat tiap warga perumahan villa tanah baru dibebani dana swadaya untuk pengaspalan jalan, jiwa kebersamaan telah tumbuh bersemi. Alhasil, program pengaspalan yang penuh pro dan kontra dapat terlaksana dengan jiwa tenggang rasa.

Penulis yang menjadi bagian dari masyarakat terkecil di perumahan villa tanah baru sangat merasakan arti suatu kebersamaan untuk menggapai kemaslahatan umat.

Hasil kegiatan bersama sama seperti bertaman, bersih bersih lingkungan, mendirikan cakruk, membuat kolam ikan, memelihara ikan, panen ikan, makan hasil panen, merajut suatu kebersamaan dalam ikatan tenggang rasa.

Hal tersebut menjadi kekuatan suatu bangsa di level terkecil yakni warga perumahan villa tanah baru. Meski belum lama, namun telah terasa kekuatan tersebut.

Bukti kekuatan atas kebersamaan dibalut rasa tenggang rasa pada pertengahan tahun 2019 adalah adanya bangunan Mushola di perumahan VTB. Sejak awal tahun 2019, dengan 90 persen dana swadaya, terbangun tempat peribadatan muslim. Bangunan dengan luasan 120 meter persegi (dua lantai) kokoh berdiri di perumahan Villa Tanah Baru.

Mak nyess rasanya, ketika petang hari sepulang kerja dapat mewujudkan penghambaan tiga rakaat secara berjamaah di mushola tersebut. Terasa nyaman tatkala pulang kerja agak telat namun dapat turut serta sujud dalam empat rakaat menjelang malam tiba.

Mengakhiri susunan kata dan paragraf dalam tulisan yang tidak bermutu ini, saya secara pribadi mengucapkan terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada lingkungan tempat tinggalku. Lingkungan yang lambat laun mengkompliti pembentukan makhluk mulia lagi sempurna .

Teriring doa kepada Sang Pencipta dan Penguasa Alam Semesta, semoga lingkungan bermukim yakni Perumahan Villa Tanah Baru, dapat menjadi episode kehidupan yang menggoreskan kebaikan sebagai jalan menuju alam keabadian.

ditulis dari Blok H6, 18 Mei 2019
Semoga bermanfaat

Iklan

Akeh Resikone, Sepi Ing Pandum/Pamrih

Pemikiran ku semakin terbuka. Arsiparis juga manusia. Pekerja arsip harus paham dalil utama kearsipan. Dalil itu adalah ARSIP dari singkatan” Akeh Resikone Sepi Ing Pandum/Pamrih” ( penuh resiko dan sedikit perhatian pimpinan, atau mungkin sedikit pendapatan, bahkan harus rela tenggelam tanpa ketenaran).

Berikut adalah hasil sharing dari salah satu arsiparis yang perkasa di habitat kearsipan nya. Ijinkan penulis menyampaikan rasa tersanjung telah dipercaya menjadi teman sharing dan berbagi.

Meski waktu menunjukkan dini hari sekali, luapan ekspresi tidak terbendung. Kata per kata menggambarkan perasaan. Meski terkesan negatif, namun bagi saya dapat diambil sudut pandang kebaikannya.

Kondisi kurang harmonis antara atasan dan bawahan ( arsiparis) sebagaimana gambaran kutipan di bawah ⬇, memunculkan pertanyaan ” masihkah kita terus terus kan untuk mendukung Sistem Penilaian Kinerja Arsiparis berbasis SKP?????

[18/6 01.57] 👩seorang ibu Arsiparis: terkadang merasa bingung, dikala dicueki ama pimpinan, kadang terisolasi dengan teman-teman sejawat yg telah menjadi pejabat, komunitas terbatas, jauh dari pengembangan diri di lingkungan kerja.

Dimana y, ada suasana yang sesekali bisa berbagi tanpa ada alibi pembelaan hati. Kasian ni jiwa ini yang penuh alibi untuk dapat memenghibur diri, berusaha tetap melangkah elegan, beraktivitas sesuai kapasitas.

Di kantor berusaha menjaga kelewat proaktif untuk mengurangi kesalahan persepsi. Jika keterusan, bisa-bisa ketemu cibiran dan dicuekin atasan. Sssst, jangan bilang siapa siapa y,…kalo boleh jujur, diri ini masih penuh harapan meski merasa tiada harapan😀😀

[18/6 02.01] 👩seorang ibu Arsiparis: duh….orang pusat, notabene ada fasilitas anggaran untuk kembangkan program. Disini daerah, bukan pusat. Disini harus berjibaku misalnya membuat program arsip sampai menerbitkan peraturan kearsipan.

[18/6 02.02] 👩seorang ibu Arsiparis: Hal yang paling sedih itu kalo dianggap saingan ama beliau beliau sebagai pejabat struktural. Apa mereka takut kalah tenar???😀😀

[18/6 02.12] 👩seorang ibu Arsiparis: banyak sekali fakta yg menjadikan arsiparis susah maju baik dari segi pengembangan SDM maupun eksistensi yang muncul dari faktor internal maupun ekstrnal.

[18/6 02.14] 👩seorang ibu Arsiparis: Dahulu teman tidur sewaktu sekolah, sekarang menjadi top menejer ak….wow., berbeda denganku seorang arsiparis yang bukan pejabat struktural. Arsiparis sekedar penyaji informasi.

[18/6 02.17] 👩seorang ibu Arsiparis: Yang terjadi di kantorku, apa yg seharusnya menjadi hak arsiparis (berdasar regulasi) selalu dan diharuskan lebih kecil ketimbang para pejabat struktural, sekalipun mereka dlm keterbatasan fisik dan mental. Jadi merasa terbatas kreativitas, terbatas akses komunikasi.

[18/6 02.24] 👩seorang ibu Arsiparisi: Kita yg mempunyai ide, kita yang merencanakan, kita yang melaksanakan, kita yang melakukan ekskusi namun pejabat struktural yang dapat ketenaran😀😀😀

[18/6 02.27] 👩seorang ibu Arsiparis: meski sebenarnya saya tidak pernah ada kata *saingan* , namun perlu lah sesekali diberikan penghargaan atas kiprah di bidang kearsipan. Apa perlu menunggu orang lain yg menilai?

[18/6 02.31] 👩seorang ibu Arsiparis: Pejabat Struktural datang ke kantor, meninggal kantor, di kantor bisa tidur, atau izin sakit. Pekerjaan telah terbagi habis kepada bawahan. Pekerjaan pun selesai, target tercapai, nilai pun baik. Ibarat kata hanya datang ke kantor ongkang2, makan lalu pergi, pekerjaan pun selesai😀

[18/6 02.33] 👩seorang ibu Arsiparis: Kuliat disini, semua pejabat strukturalnya Invalid. Ada yang sakit secara fisik, ada yang kurang secara mental.

[18/6 02.36] 👩seorang ibu Arsiparis: ini bukan pandangan negativ. Ini adalah kondisi riil yg telah berjalan 31 tahun.

[18/6 02.38]👩seorang ibu Arsiparis: So, jadi arsiparis disini harus banyak banyak menghibur diri dan menempatkan diri sesuai dengan kapasitas. Buat suasana senyaman mungkin, bawa perasaan adem ayem, gak perlu lah dimasukin ke hati. Sering sering saja mengucap alhamdulillah, banyak banyak bersyukur

Jawaban atas pertanyaan “masihkah kita terus terus kan untuk mendukung Sistem Penilaian Kinerja Arsiparis berbasis SKP????? bisa “iya” dan bisa “tidak”. Jika mempergunakan pendekatan sebab dan akibat, maka dapat dipetakan,
1. Apakah yang menjadi penyebab muncul nya perasaan seorang arsiparis sebagaimana kutipan curhat colongan di atas?
2. Bagaimana kah gambaran dan curhat an dari sisi manusia dalam peran pejabat struktural?
3. Bisa jadi dengan sistem penilaian SKP, dapat mengeliminir kejadian sebagaimana kutipan curhat colongan di atas.
4 atau malah semakin memperparah keadaan?

Kemudian untuk ringkasnya penulis memakai istilah guyonnya “apapun makanan nya minumnya teh botol Sisri”. Mau tidak mau, suka tidak suka, Dalil sebagaimana penulis sampaikan di awal tulisan perlu dijadikan landasan untuk bekerja di bidang kearsipan.

SIAP 💁👌dengan kondisi, Akeh Resikone, Sepi Ing Pamrih/Pandum atau di singkat ARSIP. Dalil ini menjadi intermezzo saat ceramah nya Bu PUJI ASTUTI (dosen panggilan di Program Studi Kearsipan UGM tahun 2003).

Sekali lagi, penulis harus mendeklarasikan bahwa kearsipan merupakan salah satu bentuk “tarekat” untuk menuju alam keabadian.

Salam arsiparis Indonesia, semoga bermanfaat

Nasywa-Dipta-Rara

Lupa kapan tepatnya, kakak Nasywa memakai pampers. Meski menyebut merk dagang, namun istilah pempers sudah erat dalam keseharian untuk menyebut popok bayi pelindung ompol.

Training toilet yang pernah kudengar selama ini, tidak pernah dipraktekkan kepada ketiga anaku. Nasywa anak pertama yang akan memasuki enam tahun usianya, telah lepas dari popok bayi. Meski baru menjelang lima taun dapat terbebas dari ketergantungan popok bayi.

Kini, tiap tengah malam🌛🌟, kak Nasywa nangis sebagai tanda kebelet pipis. Segera ku terjaga dan menuntunnya untuk menuju toilet 🚾. Tanpa disadari si anak telah menemukan jalannya sendiri.

Begitu juga, seminggu ini Kak Nasywa telah berani tidur pisah ranjang meski masih dalam satu kamar. Perkembangan anak yang tak terbaca dan terencana sebelumnya. Betul anggapan ku bahwa anak menjalani takdir nya masing masing, bahkan tanpa intervensi yang berlebihan dari orang tuanya. Pokoknya si orang tua bertugas dengan sabar menemani tumbuh kembang anak.

Berharap hal serupa dapat terjadi di anak kedua, Dipta. Melewati tahun keempat di usianya, ketergantungan popok bayi mencapai ukuran XXL. Tentu saja menjadi rutinitas tiap minggu untuk memburu informasi lokasi toko yang menjajakan harga promo.

HARGA promo cukup menjadi daya tarik sehubungan juga masih harus menyediakan popok bayi untuk anak ketiga, Rara. Meski belum genap berusia satu tahun, ukuran pokoknya mendekati L. Semakin besar ukuran, semakin dalam merogoh kocek.

Kocek, hehehe, meski menepis keraguan untuk belanja keperluan si anak, namun juga tak pantas jika bermewah mewah dalam penyediaan keperluan anak.

Untuk mengakhiri, tersebut harapan dari lubuk hati ❤💞 “sebagai manusia yang penuh keterbatasan di dunia ini semoga kehadiranku dapat dimengerti dan dipahami ” oleh kehidupan termasuk wujud titipan Ilahi yakni ketiga anaku (Nasywa-Dipta-Rara)

Jam 01.29, 18 Mei 2019 di gubuk Villa Tanah Baru, Beji, Depok, Jawa Barat

Mengharapkan Forkom pekerja Arsip Migas

Selama sepuluh tahun memikul jabatan dalam urusan kearsipan, belum sekalipun menemui forum komunikasi pekerja dan pemerhati arsip minyak dan gas bumi. Meski penulis sebagai pekerja arsip di Ditjen Migas sempat menginisiasi pertemuan kearsipan dengan mengundang BPMIGAS dan Pertamina pada tahun 2012 untuk workshop penyusunan SOP.

Namun demikian, belum terdapat tidak lanjut pertemuan sejenis yang mempertemukan penjaga rekaman kegiatan urusan Migas di Indonesia. Bisa jadi, penulis yang kuper atau kurang pergaulan. Bisa jadi penulis yang terpendam di ruang arsip ditjen Migas dengan tumpukan kertas dan terikat kotak rutinitas penyimpanan arsip.

Tulisan ini menjadi kerinduan penulis akan adanya jejaring informasi arsip minyak dan gas bumi. Urusan minyak dan gas bumi di Indonesia padat modal dan teknologi. Wajar jika urusan Migas dilaksanakan berbagai institusi. Bertumpuk kepentingan pada urusan migas pun berimbas pada perubahan ketatanegaraan.

Peralihan institusi sesuai dengan amanat konstitusi mengiringi periodisasi pelaksanaan kegiatan Migas. Periode sejak zaman penjajahan, awal kemerdekaan, era Orde Lama, Orde Baru, zaman reformasi sampai saat ini mengalami perjalanan perubahan, perkembangan, pembagian serta peralihan institusi pelaksana kemigasan Indonesia.

Selain itu industrialisasi dan teknologi tinggi yang sangat indentik dengan kegiatan migas. Perusahaan Migas yang berasal dari puluhan negara luar pun mengalami perkembangan baik nama, label, logo, kongsi, kepememilikan, pemodal dan seterusnya. Tak ayal sempat terdengar rekaman kegiatan pelaksanaan pertambangan Migas sampai dibawa ke negara asal dari perusahaan Migas terkait.

Minyak dan gas bumi 🌎 menjadi sumber pendapatan negara yang bersifat unggulan. Sering kita dengar menjadi kategori dalam membedakan pendapatan negara, baik pada keuangan pusat maupun daerah yakni pendapat Migas dan pendapatan non Migas. Pendapatan dari Sumber Daya Alam migas ini dikategorikan pendapatan negara non pajak.

Saat ini, urusan minyak dan gas bumi secara kelembagaan dilaksanakan oleh beberapa institusi yakni Kementerian ESDM cq. Ditjen Migas bersama Suatu Badan Pelaksana yang dibentuk sebagai Amanah Undang Undang tentang Minyak dan Gas Bumi tahun 2001 kemudian menjadi SKK Migas pada tahun 2013 sebagaimana putusan Mahkamah Konstitusi.

Sifat urusan migas yang terpusat pada institusi pemerintah pusat bersama dengan badan khusus (BPMIGAS/SKK Migas dan BPH Migas) yang berada di luar institusi pemerintahan menjadi konstelasi kelembagaan dengan harapan menjaga hal yang bersifat koruptif.

SKK Migas bertindak mewakili pemerintah dalam melakukan penandatangan Kontrak kerja sama (KKS) bersama Badan Usaha Pertambangan Migas. Sebelum tahun 2001, diperankan oleh Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara.

Bentuk kerjasama dalam pengusahaan migas berupa Perjanjian Karya sampai dengan tahun 1960. Bentuk kontrak production sharing (KPS) atau konsep bagi hasil generasi kesatu tahun 1964 – 1977, KPS generasi kedua tahun 1978 – 1987, KPS generasi ketiga tahun 1988 s.d. sekarang. Selain itu juga terdapat kerjasama pengusahaan migas dalam bentuk TAC, EOR, dan KOB atau kerjasama operasi bersama. Dan saat ini dikenal dengan skema Gross Split.

Baca juga http://nurulmuhamad.blogspot.com/2015/01/data-dan-informasi-minyak-dan-gas-bumi.html

Kontrak kerjasama pertambangan Migas yang sebelumnya harus mendapatkan persetujuan tertulis Presiden RI, berakhir setelah adanya Undang-undang RI tentang Minyak dan Gas Bumi pada tahun 2001.
Baca juga https://nurulmuhamad.blogspot.com/2014/07/persetujuan-presiden-tentang-kontrak.html?m=1

Pada kegiatan usaha Hilir Migas, secara kelembagaan terdapat regulator selain Ditjen Migas, yakni Badan Pengatur Hilir (BPH Migas). Badan ini bersifat independen dengan pimpinan kolektif kolegial bernama Komite BPH Migas. Anggota Komite di pilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

Bagaimana bentuk hubungan kerja antara Ditjen Migas dengan BPH Migas? Dari salah satu potret kewenangan BPH MIGAS yakni pengelolaan aset negara berupa pipa Distribusi dan Transmisi Gas Bumi selain mengawasi stabilitas ketersediaan dan distribusi BBM secara nasional yang ditugaskan kepada Pertamina.

Balik ke topik “belum adanya ajang komunikasi antar pekerja arsip Migas”, bahwa sebagai contoh kebutuhan arsip pada tahun 2014 yakni data dukung pada pengadilan pajak dimana rentang kurun waktu arsip menembus batas periodisasi institusi, perlu kiranya terwujud forum komunikasi tersebut.

Salah satu yang dapat dihasilkan dari forum pekerja arsip Migas adalah adanya wadah pertukaran informasi berbasis arsip. Keberadaan arsip Migas yang tersebar di beberapa institusi sesuai kewenangannya menjadi penting untuk dapat diidentifikasi.

Kelompok institusi yang berbentuk Badan Usaha Milik negara yang awalnya hanya Pertamina, kemudian berkembang dengan kemunculan PGN di tahun 90 an, dan saat ini telah lahir anak perusahaan dari Pertamina dan PGN yang ikut berperan dalam pelaksanaan kegiatan usaha Migas. Sebut saja Pertagas, Patra Nusa Data, dan seterusnya.

Kelompok pengusaha multi nasional dan nasional pun telah banyak yang membentuk organisasi sebagai bagian dari stakeholder Migas misalnya di Hulu Migas sebut Internasional Petroleum Association (IPA), di hilir Migas ada nama Hiswana Migas, dan seterusnya.

Lembaga penelitian pada Universitas pun turut serta dalam urusan perminyakan. Misalnya melakukan studi bersama pada penyiapan wilayah kerja Migas. UGM, UPN, ITB, Unpad dan seterusnya yang memiliki lembaga penelitian di bidang geologi dan perminyakan turut andil dalam perkembangan Migas di Indonesia.

Kemudian dari sisi profesi dan para profesional terdengar ikatan sarjana perminyakan, ikatan alumni ITB yang memiliki bidang perminyakan sebagai bidang pekerjaan turut serta dalam pelaksaan kegiatan Migas di negeri ini. Lembaga Sertifikasi Profesi / LSP Migas yang terbentuk dari adanya PPT Migas, adanya Sekolah Tinggi Akamigas, kemudian keberadaan PPPTM “Lemigas” dengan laboratorium yang telah teruji sejak lama, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari urusan migas di Indonesia.

Tak ketinggalan selain hulu, hilir ada penunjang migas. Industri penunjang migas menjadi pengungkit perkembangan urusan migas di negeri ini. Perusahaan plat merah seperti Surveyor Indonesia dan Sucofindo sebagai pioner diteruskan perusahaan penunjang baik dari dalam maupun luar negeri.

Peluang usaha migas dalam menjaga standarisasi keteknikan dan keselamatan pekerja memunculkan jasa inspeksi tambang migas. Berjajar nama PJIT (Perusahaan Jasa Inspeksi Tambang) migas menjadi unsur yang tidak bisa dilepas.

Isu lingkungan hidup dan pengembangan komunitas masyarakat di sekitar daerah tambang migas menjadi mutlak dari perkembangan migas. Beberapa sekolah tingkat menengah yang berbasis kurikulum industri migas telah bermunculan untuk menjadi rantai suplai pekerja migas.

Perhatian tanggung jawab sosial oleh perusahaan pertambangan migas turut dalam mewarnai kemigasan di Indonesia. Bentuk hibah atau bantuan atas barang milik negara eks KKKS (perusahaan pertambangan Migas) kepada masyarakat sekitar pun menjadi rekaman kegiatan yang patut untuk diolah menjadi informasi.

Akhirnya, tulisan ini menjadi pengantar kerinduan penulis yang mendambakan adanya jejaring pekerja arsip migas. Semoga terjadi perjumpaan dengan kerinduan tersebut, semoga gayung ini disambut rekan teman sejawat yang mempunyai profesi penjaga informasi berbasis arsip migas.

Nomor HP penulis 087886919182, alamat email muhnurul@gmail.com, kantor di Gedung Migas Lantai 4 (ruang arsip) Jl. HR Rasuna Sa’id Kav. B5 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan

Kesendirian Arsiparis

Penulis berusaha tiada jemu jemu untuk terus menuliskan kearsipan. Menapaki pertengahan Tahun 2019 ini, di bulan ke-enam pada pertengahan bulan ini menggali tema dan pernak pernik selama menjalani tugas kedinasan dalam jabatan arsiparis.

Beberapa respon dari sesama pekerja arsip via japri atau melalui komentar di blog menjadi penambah motivasi diri untuk menulis kearsipan. Ada yang curhat terkait kebingungan di kantor nya tentang tugas kearsipan. Ada juga yang merasa bahagia dan bangga atas pencapaian prestasi sebagai arsiparis.

Meski belum pernah kenal sebelumnya, belum pernah bertemu namun berkah tulisan, semakin menjalin silaturahmi. Minimal meninggalkan cerita yang kiranya dapat ditulis kembali.

Suatu hari pada tanggal 13 Juni 2019, seorang arsiparis dengan jabatan arsiparis mahir pada unit tata usaha salah satu biro (unit kerja level eselon 2 bukan unit kearsipan), Badan Tenaga Nuklir Indonesia yang belum berkenan disebut namanya, menyampaikan pesan singkat kepada penulis.

Melalui logat campuran bahasa Jawa, seorang arsiparis menyampaikan pesan singkat kepada penulis. Berikut kutip annya:

[13/6 08.03] arsiparis: TMT SK nya di 2016
[3/6 08.13] arsiparis: Rasane koyok di sisihkan ngono Pak nek arep butuh ngobrol soal iki lho gawean arsip kudu tenaga tambahan karo alat2… Pokoke rasane nge ganjel. Bedho nek sangkutan ne soal anggaran…
[13/6 08.25] arsiparis: Aku baru terampil mahir
[13/6 08.29] Arsiparis: Mau nya Bos ku Penilaian arsip di biro agar bagus semua bagian.

Penggalan pesan singkat tersebut bisa jadi merupakan pemandangan kearsipan yang juga banyak ditemukan di institusi lainnya. Bisa jadi????, mungkin saja.

Arsiparis yang memiliki perasaan kesendirian dan butuh patner dalam menerima penugasan pimpinan. Begitu juga penulis di awal awal menjalani hari hari berdinas sebagai arsiparis. Dalam tautan http://nurulmuhamad.blogspot.com/2019/06/awal-kerja-arsip.html

Menjadi pionir di unit kerja dalam pelaksanaan urusan kearsipan memang penuh lika liku nya. Terkadang perlu kiranya sesaat kita berlari 🏃dari kenyataan pekerjaan, namun kembali lagi dengan semangat yang terus diperbaharui.

Menjadi pekerja di bidang pekerjaan yang penuh dengan tantangan, penuh resiko namun sepi dalam apresiasi pimpinan, diperlukan jiwa yang besar. Trik nya adalah dudukan beban pekerjaan sesuai dengan jenjang jabatan. Jenjang jabatan arsiparis telah mengatur kemampuan untuk penyelesaian pekerjaan.

Jika tanggung jawab pekerjaan sebagai arahan dan harapan pimpinan belumlah dapat terwujud, pasrah saja jika kewajiban pekerjaan sesuai jenjang jabatan telah diusahakan penuh dengan semangat.

Capaian bidang kearsipan pada unit kerja bisa jadi berbeda dengan capaian kearsipan pada unit kearsipan. Untuk teman sejawat yang kebetulan memiliki habitat unit kearsipan (sub bagian kearsipan pada kementerian atau lembaga) patut bersyukur. Meski masih terdapat tantangan, namun bisa jadi tidak seberat yang dirasakan arsiparis ada unit kerja. Bisa jadi???? Mungkin???

Akhir tulisan ini, secara pribadi saya mengucapkan terimakasih atas curhatan via japri. Saya jadi banyak belajar. Semoga ibu tetap semangat meniti aktivitas kearsipan.

Arena Bermain Anak

Minggu, 16 Juni 2019 melalui tulisan ini saya mau ucapin terima kasih kepada TIP TOP di Jl. Martadinata, Ciputat. Sejak lepas lebaran, arena bermain Outbond telah di buka gratis. Lima jenis permainan salah satunya flying fox dan jembatan tali yang dilirik Nasywa dan Dipta, tanpa berbayar. Dua bocahku nampak senang, dan sebagai orang tua pun bisa tersenyum karena tak ada model penebusan tiket 😂😛😄😄. Gratisan

Biasanya sih minimal 20 ribu harus melayang untuk dapat menikmati arena bermain yang diberikan judul outbond. Gak tau penyebabnya, kok seolah tempat belanja satu ini memberikan fasilitas taman yang ramah anak 👶 untuk bisa dimanfaatkan disaat menunggu ibunya berbelanja keperluan sehari-hari.

Dunia anak adalah dunia bermain. Kata itu menjadi jargon untuk membela hasrat anak dalam mencari kesenangannya. Atau setidaknya menjadi kata untuk berusaha mengerti bahwa begitulah salah satu pojok keseharian anak. Dengan bermain, anak menjadi ceria dan mengesankan bahagia. So, jadi orang tua pun ngerasa bangga, diberikan titipan balita yang penuh semangat membara. Bara keinginan dan penasaran suatu yang baru, menantang dan menyenangkan.

Menjadi teman buat anak dalam bermain, kadang sudah tidak zamannya, arena bermain anak sudah tersedia seperti di tempat perbelanjaan bernama TIP TOP. Pertemuan dua kepentingan yakni kebutuhan menyenangkan anak dan penyediaan fasilitas bermain memunculkan bisnis atawa ladang berusaha.

Penampakan fasilitas taman dengan dilengkapi arena bermain tanpa berbayar, menjadi wujud untuk berkontribusi mencipta kan kondisi lebih baik, bukan melulu soal bisnis. Kontribusi dari tempat perbelanjaan yang katanya memiliki sasaran konsumen keluarga muslim.

Keluarga muslim yang datang terdiri anak dan orang tua tidak semata mata menjadi obyek dalam bisnis atawa usaha arena permainan anak saja, namun menjadi bagian dari masyarakat yang harus diberikan fasilitas umum.

Fasilitas umum dari tempat perbelanjaan. Fasilitas umum berupa taman bermain. Sebagai pelengkap fasilitas yang telah ada yakni masjid yang bersih, parkir yang luas dan foodcourt yang murah.

Sekali lagi, kami ucapkan terimakasih semoga diikuti tempat perbelanjaan yang lain.

Nasywa Wisuda TK

Sabtu, 15 Juni 2019 mata melelehkan air mata pertanda tak kuasa menahan keharuan. Di hari prosesi Wisuda diumumkannya harapan dan cita- cita dari seorang anak bersama teman sebayanya. Nasywa anak pertama dari pasangan Nurul Muhamad dan Kreatiana Evelyn mengakhiri perjalanan sekolah Tingkat Kanak Kanak (TK).

Dua tahun sudah, hari hari meniti jalan menuju pintu 🚪ilmu di masa pra pendidikan dasar dari anak bernama Nasywa. Meski tak jarang di lima hari waktu sekolah, dia berdiam diri di rumah alias tidak berangkat. Beribu alasan yang di utara kan nasywa untuk mengikuti rasa malas tidak masuk sekolah.

Mungkin juga orang tua yang tidak bisa mengkondisikan agar si anak ini rajin sekolah. Namun demikian, secara keseluruhan sekolah dapat terlaksana dengan beberapa momentum capaian prestasi.

Merupakan prestasi Nasywa sudah dapat membaca huruf Latin dengan lancar. Selain itu melalui sekolah di RA Bening mengkondisikan Nasywa mampu menulis ✏ meski masih tercampur antara huruf kapital dan huruf kecil, patut untuk menjadi kebanggaan sebagai orang tua.

Kini, saat harus melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Dasar, kudu memperhatikan batasan umur. Batas standar untuk dapat memasuki Sekolah Dasar saat umur anak mencapai dan mendekati tujuh tahun.

Lahir di tanggal 12 Juli tahun 2013, nasywa genap berumur 6 tahun saat masa dibukanya pendaftaran sekolah. Kegamangan orang tua atas kemampuan psikologis saat menjalani Sekolah Dasar menjadi pertimbangan yang kuat. Hingga menemukan keputusan sementara untuk menunda satu setahun untuk masuk ke Sekolah Dasar.

Di akhir tulisan ini, mendudukan diri sebagai orang yang diberikan amanah untuk menemani sampai anak mampu meniti kehidupan mandiri, penulis hanya bisa tawakal. Mungkin bukan pasrah yang pasif, namun juga tidak bisa terlalu aktif menentukan takdir.

Namun penuh pertimbangan kebijaksanaan dalam menjalani peran bapak.

Menjaga autentikasi Arsip

Sebagaimana realitas pekerjaan pada umumnya, bahwa pengelolaan objek pekerjaan kearsipan dituntut untuk sesuai norma, standar, petunjuk dan kriteria (NSPK) yang berlaku di institusi pemerintahan.

Mendasarkan pada ketentuan NSPK yang tercantum pada Standar Kualitas Hasil Kerja Arsiparis ( Peraturan Kepala ANRI nomor 5 yang kemudian diubah kembali dengan nomor 23 tahun 2017) bahwa arsiparis jenjang penyelia melakukan verifikasi arsip yang tercipta.

Tautan https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2018/12/05/uji-arsip-migas/ merupakan ulasan terkait uji arsip.

Bahwa mendasarkan kegiatan tersebut, penulis melakukan pengujian arsip. Uji arsip dilakukan dengan observasi terkait kriteria arsip. Arsip adalah dokumen yang telah memenuhi kriteria struktur, kontek, dan konten.

Ketentuan teknis yang mengatur kriteria surat masuk dan surat keluar wajib memiliki kriteria lengkap dan benar. Kelengkapan surat sebagai hal yang dipersyaratkan oleh tata naskah dinas. Kebenaran surat sesuai dengan pelaksanaan kegiatan berdasarkan kewenangan yang dimiliki institusi.

Surat-surat yang terekaman dalam pelaksanaan kegiatan Ditjen Migas sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2016 mengendap menjadi tumpukan arsip yang menggunung di sela sela ruang kerja. Pemandangan tumpukan arsip yang telah diatur pada sarana odner maupun map 📂 hampir merata di tiap ruang arsip pada unit kerja di Gedung Migas.

Beberapa kondisi lingkungan yang menyebabkan kan tidak berjalannya siklus hidup arsip menyebabkan tumpukan arsip menjadi pemandangan yang memaksa untuk diterima oleh pegawai dan pejabat di Ditjen Migas.

Siklus hidup arsip yang seharusnya dijaga keberlangsungan nya oleh arsiparis, mandeg selama sepuluh tahun. Kemudian muncul nya keadaan yang luar biasa untuk menghidupkan siklus hidup arsip yakni kegiatan renovasi ruang kerja.

Penulis telah menggambarkan keadaan arsip akibat renovasi ruang kerja pada tautan berikut
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2018/10/15/ledakan-%f0%9f%92%a5-arsip-di-gd-migas/

Kondisi renovasi ruang kerja mendesak para pegawai dan pejabat mau tidak mau meninggal arsip dan dokumen menuju ruang kerja transit. Kepindahan sementara tersebut menyebabkan ruang arsip menanggung kepindahan arsip dari ruang kerja. Puluhan kardus besar dan kontainer dengan luasan ratusan meter lari menjadi beban kerja arsiparis.

Kembali kepada topik menguji arsip untuk melaksanakan verifikasi arsip yang tercipta. Sengaja penulis menyampaikan kondisi ruang kerja sebagaimana paragraf di atas karena berkaitan berat dengan penciptaan arsip.

Penulis berpendapat terdapat dua sudut pandang fase penciptaan. Yang pertama adalah keadaan alamiah dari berjalannya siklus hidup arsip. Yang kedua adalah adanya intervensi keadaan luar biasa misalnya dampak kegiatan renovasi ruang kerja.

Pada keadaan yang berhimpitan dengan kejadian luar biasa seperti renovasi ruang kerja, penulis berpendapat bahwa perlu diperhatikan untuk dikategorikan ke fase penyusutan (siklus hidup arsip). Meski terjadi kegiatan pemindahan dari ruang kerja ke ruang arsip, namun pemindahan ini lebih condong kepada kegiatan evakuasi arsip bukan pemindahan pada fase penyusutan.

Sebagaimana tulisan penulis pada tautan https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/05/11/evakuasi-arsip/

Bisa jadi kegiatan pemindahan tersebut gatau dalam istilah penulis adalah evakuasi arsip, dapat dikategorikan ke fase penggunaan dan pemeliharaan, bukan fase penyusutan.

Penulis mengidentifikasi dua proses pelaksanaan siklus hidup arsip harus ditinjau dari unit yang melaksanakan, bukan hanya fokus pada proses nya saja. Kesamaan proses pemindahan arsip dengan perbedaan unit pelaksana akan menyebabkan perbedaan sudut pandang fase di dalam siklus hidup arsip.

Misalnya proses pemindahan berikut ini:
1. Proses berpindahnya arsip dari ruang kerja ke ruang arsip menjadi salah satu proses pada fase penciptaan jika ditinjau dari unit kearsipan. Alasannya adalah dari yang belum ada menjadi ada. Dari situlah mulai terjadi kewenangan untuk pengolahan arsip inaktif.
2. Proses berpindahnya arsip dari ruang arsip unit kearsipan pada jenjang bawah ke ruang arsip unit kearsipan jenjang lebih tinggi menjadi salah satu bentuk proses fase penyusutan

Arsiparis Minder???

Apakah arsiparis Minder atawa kurang percaya diri dengan jabatan khusus pengelola arsip???? Bagaimana dengan para pembaca yang memiliki jabatan arsiparis?

Meski jabatan khusus pada urusan kearsipan telah dilakukan pembinaan lebih dari 30 tahun dan bidang kearsipan di Indonesia telah berusia 48 tahun, namun bagi pegawai yang menduduki jabatan arsiparis masih terkesan minder dan kurang percaya diri.

Bagi penulis, pekerjaan bidang apapun menuntut sikap pegawai yang dapat menampilkan kesan percaya diri. Namun agak berbeda dengan jabatan arsiparis, tidak jarang jika berkenalan dengan orang baru, dapat dengan lantang menyampaikan jabatan sebagai seorang arsiparis.

Dari pengalaman penulis yang telah lebih dari 10 tahun menduduki jabatan fungsional arsiparis, rasa percaya diri naik dan turun seiring dengan keadaan di sekitar.

Jika kita bandingkan dengan jabatan lain, arsiparis mengesankan sebagai jabatan level bawah khususnya di intansi teknis. Selain dunia pendidikan kearsipan masih berada taraf Diploma tiga, dan perubahan undang undang kearsipan di tahun 2009, iklim pekerjaan misalnya di pemerintah masih melihat kearsipan berada di pemahaman butuh dan tidak butuh.

Sedikit flashback pada tahun 2009, ketika penulis menjalani awal masa kerja di Ditjen Migas bersama dua belas orang teman lainnya. Kala pengenalan ruangan, kita menjalani orientasi ke seluruh unit kerja. Saat itulah mulut ini harus menjawab pertanyaan latar belakang pendidikan.

Teman seangkatan dengan variasi biground pendidikan jurusan teknik kimia (rina, imron, wiyono, yeni) perminyakan ( ira yosi, Risris), geologi (asep), hukum (dewi, vira), administrasi negara (bayu dan dondi), teknik mesin ( urly), dan aku sendiri adalah kearsipan.

Tidak lantang dalam menjawab pertanyaan mengesankan kurang percaya diri, bahkan respon almarhum bapak Naryanto Wagimin ketika mendengar jawabanku, menanyakan kembali dengan kata “keartisan?”

Meski dengan suasana guyon namun sedikit banyak mempengaruhi pembentukan rasa percaya diri. Sebetulnya wajar saja, setelah saya telusuri seluruh latar belakang pendidikan yang dimiliki pegawai Ditjen Migas, saya adalah orang pertama ☝yang memiliki ijazah Diploma tiga kearsipan. Karena ijazah kearsipan, saya dapat bergabung di Ditjen Migas.

Latar pendidikan kearsipan membuka cakrawala wawasan umum para pegawai dan pejabat di Ditjen Migas saat berkenalan dengan saya. Awalnya yang belum tahu menjadi tahu.

Selama sepuluh tahun pula lah, habitat pekerjaan yang memiliki substansi keteknikan, mempengaruhi rasa percaya diri.

Jiwa yang bebas tergelitik untuk konsisten menggeluti bidang kearsipan meski terasa sepi. Meski berakibat perasaan sepi, namun sejauh ini dapat terus mengkampanyekan kearsipan di institusi teknik yang kental dengan kegiatan dan program kerja keteknikan khususnya substansi Migas.

Terpilihnya penulis sebagai arsiparis teladan tingkat nasional untuk kategori arsiparis terampil pada tahun 2014 dan terpilih lagi sebagai arsiparis terbaik tingkat kementerian ESDM tahun 2018, bukan karena sudah tidak minder lagi.

Pencapaian teladan dan terbaik karena berusaha melawan rasa minder di tengah-tengah geliat kegiatan teknik kemigasan.

Akhirnya, kesimpulan nya adalah rasa minder atawa kurang percaya diri menjadi tantangan dalam pelaksanaan tugas sebagai arsiparis. Tiap hari meniti aktivitas kearsipan untuk terus menghadapi tantangan rasa minder dan kurang percaya diri yang berasal dari diri sendiri dan dari bidang kearsipan bukan dari faktor luar

Semoga bermanfaat

Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah

Arsiparis atau bolehlah kita dideklarasikan sebagai Si Penjaga Informasi, tentu saja dituntut untuk mendalami proses bisnis secara umum terkait kegiatan yang terekam di dalam arsip.

Namun demikian, apakah si Arsiparis memang harus mengetahui substansi kegiatan?, untuk apa harus memahami alur proses administrasi nya?. Kalo gitu, tuntutan untuk tau alur proses bisnis atau administrasi kegiatan sebagaimana arsip yang diolah, bisa menyita banyak waktu. 😂😀😝😋 bikin pusing karena, banyak yang harus diketahui, sedangkan masih tumpukan arsip yang belum tersentuh 😭😭.

Terlebih untuk pengarsipan dengan status inaktif, mau selesai kapan 🕒❓ jika dituntut untuk membekas kan tiap transaksi kegiatan 🤔💭 ??? Memang tidak bisa apa, diberkaskan berdasar bentuk arsip nya, memang haruskah pemberkasan berdasarkan kegiatan 🤔💭?

Seiring dengan tuntutan profesi di era Reformasi Birokrasi, arsip dapat disajikan kepada tiap pengguna yang membutuhkan, maka tidak ada salahnya jika sesekali sebagai arsiparis mendalami proses dan hubungan kerja pada kegiatan yang termuat di dalam arsip.

Pada tulisan ini, bersamaan dengan proses pengolahan arsip penerimaan negara sektor migas, sebagaimana tautan https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/06/11/penerimaan-negara-sektor-migas/ penulis mengulas sekilas berkas Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah atau disingkat dengan PKPD.

Hubungan kerja Ditjen Migas pada Kementerian ESDM dengan Ditjen Perimbangan Keuangan pada Kementerian Keuangan menghasilkan berkas PKPD. Berkas tersebut membuat informasi terkait perhitungan perkiraan jumlah dana bagian daerah dari SDA Migas.

Dalam memperhitungkan bagian pemerintah daerah, tentunya berdasarkan realisasi lifting kumulatif per triwulan yang sebelumnya dilakukan workshop atau rapat kerja rekonsiliasi perhitungan bersama antara Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, SKK Migas, PT Pertamina dan Kontraktor KKS.

Nah, ada yg tau gak, apa itu arti atawa definisi lifting?. Si penjaga rekaman informasi ( arsiparis ) ini dituntut sedikit tahu, semoga bukan sok tahu. Namun demikian, karena arsiparis terkondisi membaca surat2 jadul, kita contek dikit definisi lifting sesuai suratnya Direktur Pembinaan Pengusahaan Migas pada 11 Juni 2002.

Surat yang ditujukan kepada Bupati Tuban tentang jawaban atas peninjauan kembali dana perimbangan migas tahun 2002, yang dimaksud dengan lifting adalah jumlah produksi migas yang dijual setelah dikurangi pemakaian sendiri (pemakaian di lapangan).

Surat tersebut menjadi isi berkas PKPD dimana tiap pemerintah Daerah sebagai penguasa wilayah kerja migas setempat menyampaikan keberatan atas hasil penetapan bagi hasil SDA Migas.

Selain alur proses bisnis kegiatan dan hubungan kerja antar institusi, pasti arsiparis juga dituntut untuk memahami kewenangan tiap nstitusi.

Manfaat yang diperoleh dengan memahami kewenangan adalah dapat menentukan tingkat kualitas arsip. Arsip yang memiliki sifat unik dan harus terjaga reabilitas serta otentitasnya, maka harus dikaitkan dengan kewenangan institusi pelaksana kegiatan.

Contohnya, pada berkas PKPD termaksud bahwa keberatan atas hasil penetapan bagi hasil SDA Migas pada tahun 2002 dari pemerintah daerah menjadi kewenangan Menteri Keuangan. Sedangkan untuk kementerian ESDM cq. Ditjen Migas bersifat tembusan.

Pada akhir tulisan ini, penulis memaknai bahwa pengarsipan menjadi tarekat atau jalan kebijaksanaan kehidupan. Selain banyak faktor yang harus diperhatikan seperti
1. Alur tiap transaksi kegiatan
2. Hubungan kerja antar institusi
3. Kewenangan tiap institusi
Juga harus memperhatikan periodisasi atau kurun waktu terselenggaranya kegiatan.

Perubahan periodisasi tata negara mempengaruhi pula perubahan peraturan perundangan undangan. Perubahan juga berdampak pada ketiga faktor yang telah disebut diatas. Kemudian semakin bijaksana dalam menyimpulkan informasi.

Buat situs web Anda di WordPress.com
Memulai