Sertifikat / akta jual beli

Via Pena Whatsapps [3/8 10.10] : Sehub dg serah terima aset jargas dr Ditjen migas kpd Pertamina, mk perlu ditemukn dok asli sertifikat atau akta jual beli tanah utk MRS di Depok, bekasi, sidoarjo, bontang, tarakan thn 2010 dan 2011. Utk itu sy mhn info apkh dok asli tsb disimpan di arsip nasional atau di pondok ranji ? Iya sy jg hrs cari srt2 administrasi misal srt izin membangun MRS dari walikota depok, bekasi, tarakan, bontang & sidoarjo.

Tulisan pena tersebut menghantarkan betapa dokumen asli masih dibutuhkan. Meski hanya tiga akta dengan wujud copy dan bukan asli, namun cukup bahan untuk mendatangi notaris dan si pemilik tanah sebelumnya

Kebutuhan dokumen asli pada tiga lokasi tanah di daerah berbeda tersebut dalam kerangka penyediaan infrastruktur gas bumi untuk kebutuhan rumah tangga

Hari Raya Idhul Adha di VTB

Jumat, 30 Juli 2020. Warga perumahan VTB menyelenggarakan ibadah Sholat Idul adha. Ibadah tersebut menjadi perdana sejak berdirinya perumahan VTB pada empat belas tahun yang lalu.

Lebih kurang seratus warga menjadi bagian dari jamaah sholat yang bertempat di Fasos Komplek. Inisiasi penyelenggaraan Sholat Ied oleh Ketua RT tersebut, cukup berhasil.

Kebersihasilan itu terlihat seperti memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk dapat menunaikan kebutuhan spiritual. Selain itu meningkatkan partisipasi aktif anggota masyarakat dalam berkegiatan sosial.

Partisipasi ditunjukkan imam, khotib berasal dari warga, bukan undangan. Begitu juga persiapannya oleh warga melalui dua kali kerja bhakti.

Akhirnya, torehan perjalanan komunitas dalam tataran wilayah mukim pada struktur terendah (warga VTB /RT 10) akan mencatatkan sejarah. Bahwa pernah lo….. Komplek ini menyelenggarakan sholat aidhul Adha…. ✊✊

Ruang Kearsipan

Assalamu’alaikum. Pak Nurul. Mohon maaf menyampaikan ke Bapak, Alhamdulillah sudah ada pengumuman hasil dari seleksi, saya diterima untuk bagian Document Controller dan Record Manager dibawah Divisi IT salah satu Perusahaan Migas. Terima kasih atas doa dan semangatnya, karena sudah jadi perpanjangan tangan dari Allah untuk membuka salah satu jalan impian saya. Minta doanya ya, Pak, semoga saya lancar, aktif, kontibutif dan bisa kasih upaya terbaik saya atas kesempatan dan amanah ini” tulis Dinda via Whatsapp. 

Pena WA itu menjadi bukti dalam peran sebagai agen dalam kaderisasi petugas arsip. Begitu juga sebagai angsuranku atas hutang budi baik yang aku telah petik. 

Ada kata “kaderisasi petugas arsip”  dan kata “hutang budi”. Ya, merasa diri terbentuk dari kearsipan, beberapa lulusan kearsipan kugaet untuk bergabung pada ruang kearsipan yang telah berhasil kujalani.

Bagiku, membagi ruang kearsipan dapat membuka akses kerja kearsipan. Ruang kearsipan menjadi kawah candradimuka diluar bangku kuliah kearsipan. Ruang kearsipan mempertemukan kebutuhan dan permintaan tenaga kerja kearsipan

Ruang kearsipan memperkaya sudut pandang para lulusan kearsipan. Meski identitas kearsipan melekat pada birokrasi, namun pembuktian Dinda dapat bergabung pada perusahaan Energi, cukup membuktikan esksitensi ruang kearsipan. 

Ruang kearsipan ini aku buka untuk para calon lulusan kearsipan dalam episode PKL atau Praktik Kerja Lapangan dalam menghadapi penyusunan Tugas Akhir. Ruang kearsipan pun menjelma perekrutan anak magang setelah lulus kuliah kearsipan menghadapi status sebagai pekerja tetap. 

Ruang kearsipan ini berada pada pelaksanaan kegiatan kearsipan secara swakelola. Perlu pemikiran dan pertaruhan serta kesempatan bahkan dukungan untuk mencipta kegiatan kearsipan swakelola yang menghasilkan ruang kearsipan. Poin yang perlu mendapat perhatian adalah kepercayaan diri dalam peran organik dalam struktur organisasi. 

Akhirnya, hutang budi pada jalan baik, telah tertunaikan dan menghasilkan satu demi satu bukti. Aku tidak memakai istilah Dharma perguruan tinggi, karena merasa pada simpul paling jauh dari institusi pendidikan tinggi itu. Simpul tak terakui resmi, karena hanya dalam simpul ikatan emosional kesamaan almamater.

Simpul yang aku bisa jalani dengan menyampaikan informasi, menjembatani dan mengantarkan mahasiswa kearsipan sampai pada ruang kearsipan. Yang aku bisa jalani membersamai para lulusan kearsipan untuk sampai pada ruang kearsipan. 

Pungkasan, semua itu tak bisa kulakukan tanpa ada komunikasi dalam ikatan emosional semasa di bangku kuliah kearsipan. Paling akhir di tulisan ini, tiada lain adalah pesan teruntuk teman angkatan Kearsipan UGM tahun 2002, Mas Timbul Wisnu Adi (PNS Kemenpora Jakarta) , “mbul tuh satu adik kelasmu jauh, telah berhasil mendapat impian kerja di perusahaan Migas dari informasi yang telah kau berikan” 

Semoga bermanfaat 

Ribuan Kedatangan di Mushola

1.048 kedatangan selama 30 hari di bulan Juli 2020. Jumlah kunjungan ke Mushola VTB, hanya yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Tiap kedatangan terpantik rasa syukurku. Sejak Mei 2019, bangunan hasil swadaya masyarakat itu mulai dipergunakan. Berbarengan dengan bulan perhelatan ritual agama islam tahunan,…. Ya..sejak ramadhan 2019 resmi menerima kedatangan.  Mushola yang dibangun sejak 1 Januari 2019, mencatatkan dalam fungsi mengantarkan jiwa pengabdian.

Ribuan kedatangan bukan berarti ribuan orang yang berbeda. Satu kepala terhitung lima kedatangan jika rutin mendatangi mushola seharinya. Lima waktu dalam sehari dalam tata cara khusus menyembah Sang Khaliq.

Akhirnya, memaknai Mushola sejak memimpin dalam inisiasi pembangunan, dan kini mencari bentuk semangat dalam mengisi hari hari bersamanya. Mencatat kedatangan demi berfungsinya bangunan sebagai sarana ibadah. Hal itu sebagai bagian dari pengabdian kepada Sang Pencipta. Manusia dalam peran sebagai abdi, termanifestasi dalam kebersamaan dalam mengurai makna kebaikan. 

Rerumputan & Makna Kehidupan

Aku dan taman. Kebersamaanku dengan rerumputan. Bisa jadi otak bawah sadar digerakkan memori masa kecil dahulu. Hewan peliharaan, membawa kedekatan dengan rerumputan. Memori hampir 30 an tahun itu pun, membawaku menyenangi merawat taman. Bukan tanaman hias, melainkan hanya rerumputan.

Secuil taman pada sisa lahan pendirian mushola, kini tumbuh rerumputan. Taman yang sirna bersamaan pembangunan mushola, kini terlihat kembali rerumputan. Berada di lahan fasos perumahan, menjadi cerita Kebersamaanku dengan rerumputan. Mengisi ruang jiwa bahkan mengamunisi kejenuhan menjadi kegairahan. 

Rerumputan mengajarkanku pada kesederhanaan dan ketangguhan. Bahkan aku pun belajar atas kerelaan berbagi meski jauh dari megahnya kehidupan.

Aku dan rerumputan. Jika masa kecilku mencari rumput liar demi hewan peliharaan, kini merawat rumput hias demi kepuasan. Namanya rumput gajah mini. Bukan rumput manila atau rumput Jepang. 

Sejak kutanam beberapa potong rumput dari potekan dan sisa taman tetangga, serta yang kucobgkel dari taman fasos depan, kulengkapi dengan mendatangkan dari penjual meski hanya 35 ribuan. Hanya butuh kesetiaan dan rasa penerimaan, rumput pun telah tumbuh menghijau menyejukkan pemandangan. 

Selanjutnya ku ditunjukkan pelajaran bahwa ketangguhan itu harus berhadapan dengan alam. Rumput sangat bergantung dengan siraman air kala terhentinya musim hujan. Lupa tepatnya kapan, dulu ceritanya aku tak sayang keluar kocek jutaan demi adanya sumber air untuk taman.

Pungkasan, aku dan rerumputan di taman, terus belajar arti kesetiaan. Setia menyirami dan membersihkan dari kerikil dan gulma pengganggu pemandangan. Dari kesetiaan itu, kutemukan pelajaran lagi, bahwa menghalau kucing yang biasa meninggalkan gangguan bau tidak mengenakan. Rerumputan masih terlewat dari kucing yang buang kotoran sembarangan.

Pungkasan, nyatanya otak bawah sadar terpengaruh besar oleh memori meski puluhan tahunan lamanya. Disisi lain, kupetik makna kesederhanaan, ketangguhan, kerelaan sampai dengan kesetiaan dari rerumputan dan ternyata hasil dari itu terhalaunya gangguan. 

Konteks Administrasi 

Pemahaman terhadap konteks organik pada struktur administrasi dan pertanggungjawaban nasional

Kalimat tersebut merupakan satu diantara landasan pemikiran dalam pembinaan kearsipan di tahun 1992. Bukan kalimat ku, namun aku hanya menulis ulang di Perka ANRI 1992 terkait pembinaan JF Arsiparis. Bersama dengan kalimat lain sebagaimana tulisanku sebelumnya yang berjudul “melestarikan budaya”

Sampai disini, kemudian aku terngiang dengan satu pertanyaan temenku sekantor, namanya Rahman 

[8/6 18.54] “Mas nurul mau nanya, terkait penyempurnaan kearsipan di ditjen migas, bentuk bentuk inovasi apa yang ada di kearsipan kita?” 

Berikut jawabanku via WAG kepadanya [8/6 19.47] “Kearsipan itu rekaman kegiatan Ditjen Migas yg tertangkap dari berbagai media. Saat ini media paling jos adalah foto animasi dan video. Kearsipan sendiri sifatnya menerima apapun bentuk dan media yg dipergunakan oleh organisasi. Kearsipan ibarat muara dari seluruh informasi yg terekam

[8/6 19.51] “Sebagai Muara, atau ujung dari Hulu dan Hilir kegiatan Migas, maka yg dapat dilakukan Kearsipan Ditjen Migas adalah menerima setiap inovasi yg telah ada. Misalnya, kearsipan harus rela menerima media elektronik sebagai bentuk arsip, So surat surat harus sudah digital, tidak lagi kertas. Pusing e mas rahman, migas kebanyakan kertas”

[8/6 19.59] nurul muhamad: Saat ini, tuntutan kearsipan secara nasional mendukung GO DIGITAL. Meski demikian, kearsipan tetap harus menjalankan tugasnya untuk mempertahankan rekaman kegiatan yg pernah tercipta dalam hal ini bermilyar Milyar lembar kertas 🙏 🙏”

[8/6 20.02] ” Arsip Digital itu, terlahir sejak bayi sudah pake teknologi informasi” Arsip Digital itu, bukan semata dari kertas yg di scan, tetapi di konsep, dikoreksi ditandatangani dan dikirim via teknologi informasi”

Akhirnya, nalarku pun sampai pada cara memaknai peran sebagai JF Arsiparis. Arsiparis dituntut untuk memahami Konteks organik pada struktur administrasi di pemerintahan. Saat ini, administrasi instansi baik pusat dan daerah terkait dengan perkembangan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik/SPBE.

Melestarikan Budaya

Ketrampilan mengatur endapan informasi dan wawasan keilmuan yang memungkinkannya untuk memberikan penilaian terhadap budaya yang perlu dilestarikan. Kalimat tersebut aku tulis kembali dari salah satu diantara landasan pemikiran semi profesional, Profesionalisme, dan scientist yang melekat di pembinaan karir JF Arsiparis. Kalimat yang muncul di tahun 1992 pada produk regulasi kebijakan pembinaan JF Arsiparis oleh instansi Pembina Kearsipan di Indonesia. 

Membaca kalimat diatas, setidaknya dapat mengisi ruang sepi dalam peran JF arsiparis sejak 10 tahun yang lalu hingga sampai saat ini. Selain itu, seolah aku mendapati kembali mendapat pijakan dalam mengurai cara pandang terhadap profesiku.

Baca juga tulisanku sebelumnya yang berjudul “arsiparis tenaga teknis atau profesional” pada tautan berikut 👇

https://wp.me/pa4ylH-mj

Kata kunci dari kalimat diatas ialah “keterampilan mengatur endapan informasi”, seolah memberi sinyal  kepada para arsiparis kategori keterampilan. Sedangkan kata kunci “wawasan keilmuan”, mempersepsikan fungsi kategori arsiparis keahlian 

Titik poin maksud kalimat termaksud diatas yang aku tangkap berada pada sambungan dari kedua kata kunci diatas. Kalimat yang berujung pada “kemampuan menilai budaya yang perlu dilestarikan“. Objek nya adalah “budaya”, dan mengandung kata kerja “dilestarikan” . Jika ditulis kembali sebagai kalimat aktif, menjadi “melestarikan budaya” 

Pungkasan, dari salah satu diantara kalimat yang menjadi landasan pemikiran semi profesional, profesional, dan scientist dalam kerangka pembinaan JF Arsiparis 1992 adalah menjaga dan melestarikan peninggalan intelektualitas pencapaian peradaban manusia Indonesia. 

Mungkin satu dari milyaran peninggalan budaya itu berada pada kalimat di tahun 1992, yakni redaksi kalimat dalam melandasi pembinaan JF Arsiparis. Akhirnya, sampailah aku pada satu pertanyaan “bagaimana landasan pemikiran” Profesionalisme dan Kemandirian arsiparis yang diusung UU tahun 2009 No 43 tentang Kearsipan dan Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 2012?”

Mie Instan

“Bapak, bikinin mi mantab, laper pak” rengekan anaku Dipta. Sudah menjadi kebiasaannya, menjelang tidur ada saja alasan laper. Mi mantab ialah sebutan mie goreng instan. Tentu banyak para orang tua yang mungkin melindungi anak – anak agar tidak terlalu sering mengkonsumsi makanan instan. 

Namun, berbeda dengan aku. Sebagaimana memoriku semasa kecil yang selalu dihiasi dengan mi instan, aku pun sangat permisif membiarkan Dipta mengikutiku. 

Sebetulnya, telah terjadi perdebatan di rumah saat anak anak sering mengkonsumsi mie instan. Pendapat istri, yang mungkin melindungi efek dari zat pengawet yang terkandung dalam mie instan, terhadap anak. 

Pungkasan, kehadiran mi instan bagiku, menurun kepada anaku. Berharap semoga tidak terjadi, apa yang ditakutkan oleh banyak para orang tua dan bahkan istriku, tentang efek dari bahan pengawetnya. 

Idul Adha pada suasana baru

Tatanan kehidupan baru. Bekerja dan sekolah dengan cara baru. Perhelatan Ibadah tahunan pun bisa di bilang berada pada tata pelaksanaan baruTarawih bukan di Mushola dan Masjid, bagiku itu baru. Sholat Ied Fitri hanya bersama tetangga terdekat atau keluarga saja, bagiku hal yang baru. Bahkan tiada Mudik saat berlebaran, tentu itu sangat baru (maklum kaum Urban hehe). 

Tata cara pelaksanaan baru mewarnai berjalannya tahun kembar, tahun 2020. Angka “20” yang berulang menunjuk tahun ini, 2020. Tahun yang diawali keadaan darurat dari status pandemi virus. Tak berapa lama menjadi status Bencana Alam Nasional Non Alam. Sampai pada pelarangan transmisi manusia dengan judul Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB. Dan kini dimana mana telah mentatuskan pada Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). 

Hari ini, Sabtu 25 Juli 2020, aku pun mencatatkan pada pengalaman baru, Apa lagi yang baru??? Adalah rencana sekelompok masyarakat tingkat komplek atau perumahan, atau RT mempersiapkan untuk penyelenggaraan Sholat Ied secara mandiri. Baru bagiku, sebelumnya dipersiapkan hanya oleh ormas islam atau pengurus masjid saja. 

Melalui pena via WAG, Ketua RT telah menginfokan atas rencana perhelatan keagamaan, dua rakaat yang diakhiri dengan Khutbah di Fasos komplek VTB. Meski dibilang sesuatu yang baru, tiada satu warga pun yang menanggapi berbeda. Bahkan respon warga sangat positif menyambut rencana tersebut. Tak sedikit warga  juga merasa lega, kebutuhan ibadah tahunan “Ideul Adha” bakal terlaksana di dekat rumah tinggal. 

Semakin nyata hal yang baru itu, di pagi ini, Sabtu 25 Juli 2020. Aku pun tergabung dalam suasana bhakti lingkungan/kerja Bhakti. Terlihat beberapa bapak : Eko, Baderi, Surya, Irwan, Juhani berada Fasos VTB sedang hangat berbincang memperhitungkan kapasitas jamaah Sholat, saat kedatanganku. Beberapa saat kemudian, bergabung bapak lainnya: Bayu S, Ibnu, Yanto, Ade, Iqbal, Afrian, Anwari hingga mengenapi 13 orang.

Tak berapa lama, lepas Fasos terlihat rapi, Pak RT pun menata suara demi forum kesepakatan. Satu demi satu persiapan rencana penyelenggaraan Sholat Idul adha di Perumahan VTB, mulai dibicarakan. Akhir pembicaraan pun sepakat bersama iringan tawa keakraban dalam kemesraan hidup bertetangga level masyarakat tingkat RT. 

Hidangan singkong dan pisang rebus dari Istri dan anak Pak RT pun menjadi saksi atas terbagi merata jatah tugas tugas demi kelancaran acara yang sangat baru di Perumahan Villa Tanah Baru/VTB. 

Berikut pembagian jatah tugas demi kelancaran acara yang sangat baru di VTB:

  1. Pemandu takbir dan MC: Haji Ade 
  2. Imam: Haji Anwari 
  3. Khotib: Pak Iqbal, Lc
  4. Perlengkapan : Pak Irwan, Pak Juhani, Pak Surya
  5. Protokol Kesehatan : Pak Afrian dan Pak Bayu
  6. Komandan penyelenggaraan: Ketua RT, Pak Eko

Akhirnya, aku yang bertempat tinggal bersama diantara mereka, agak sedikit malu, belum dapat bergabung di hari pelaksanaan. Aku terpaksa pulang kampung, demi setor muka cucu kepada kakek, menaruh rindu kepada orang tua. Dalam hatiku lirih berbisik “terlalu sayang, melewatkan hal baru, sesuatu yang monumental, bisa juga dibilang bersejarah di VTB” . Pungkasan, semoga acara baru, sholat Ied adha berjamaah di VTB berjalan lancar. 

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai